• Hari ini : Sabtu, 20 Januari 2018

20 Kapal Illegal Fishing Kepergok Anggota Polair

10-7-klm-kapal-gabung-foto1234-upl

BANJARMASIN – Meski gelombang cukup tinggi diperkirakan satu hingga tiga meter, tak membuat para nelayan asal Jawa Tengah (Jateng) beraksi penangkapan ikan secara illegal di perairan Kalimantan Selatan, tepatnya di Laut Lambangan Kabupaten Tanah Laut, Senin (19/12) sekitar pukul 08.00 WITA.

Ada sekitar 20 kapal {[Illegal Fishing] kepergok anggota tim gabungan dari Dit Polair Polda Kalsel diback-up anggota Polairud Mabes Polri yang ada di Kapal KM Gelatik 5016.

Dari keterangan, di tengah laut dengan gelombang sanat tinggi itu, berusaha mengahalau serta melakukan penangkapan.

Dari 20 kapal nelayan yang mencuri ikan menggunakan alat tangkap cantrang tersebut, pertugas patroli gabungan hanya dapat

mengamankan tiga unit kapal dan 10 dokumen kapal.
Direktur Polairu Polda Kalsel, Kombes Pol Gatot Wahyudi, melalui Kasubdit Gakkum AKBP Afebrianto W didampingi Kasi Penindakan AKP Wendi, Rabu (21/12), membenarkan penangkapan ketiga kapal nelayan itu.

“Penangkapan diback-up Kapal KM Gelatik 5016 Mabes Polri yang dikomadani AKP Irwan,’’ tambah Wendi.

Saat itu, anggota melakukan patroli, dan temukan sekitar 20 unit kapal nelayan berasal dari Jateng melakukan penangkapan ikan dan disergap, hanya tiga kapal tertangkap.

Adapun kapal nelayan yang berhasil diamankan sampai Banjarmasin, kapal berlambung Mustika, berisi ikan campuran 5 ton, dinahkodai `Dmn’ dengan 15 ABK (Anak Buah Kapal).

Saat ditangkap kata Kombes Gatot, posisinya 04°07’764″S – 114°25’891″T sekitar 15 Mil Laut dari Perairan Tanjung Selatan.
Kemudian kapal Putra Puji Manunggal, yang membawa 18 ABK dan muatan ikan 5 ton, yang dinahkodai AAW, posisi ditangkap 04°06’533″S – 114°25’541″T sekitar 15 Mil serta kapal Puji Manunggal V, yang dinahkodai Dri, membawa 20 ABK serta ikan hasil tangkapan sebanyak 4 ton, saat itu posisinya 04°05’513″S – 114°25’077″T.

“Kita hanya dengan satu kapal yang mammpu menghalau gelombang setinggi itu. Bahkan Kapal kita tidak dapat mendekati kapal nelayan sehingga harus menurunkan See raider (speed ) untuk mendekat kapal nelayan tersebut untuk memeriksa dan mengitrogasi nahkoda dan dokumen kapal,’’ tambah AKP Irwan.

Anggota dengan mengunakan sarana see reader mendekati kapal nelayan satu persatu dan meminta dokumen kapal untuk lakukan pengecekan.

Dari hasil pemeriksaan terhadap nahkoda kapal dan memeriksa alat tangkap, nahkoda kapal nelayan tersebut diduga melanggar pasal 85 Jo psl 9 UURI No 45 tahun 2009 tentang perubahan atas UURI No 31 tahun 2004 tentang perikanan.

Adapun barang bukti disita adalah selain tiga unit kapal motor, ada empat set pukat Hela (cantrang) dan 15 Ton ikan berbagai jenis dan ukuran.

“Semua masih dalam proses, dan pihkanya akan terus melakukan patroli,’’ tambah AKBP Afebrianto. (K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua