20 Organisasi Pekerja Turut Dilibatkan Cegah Narkoba

ditulis pada 13 Oktober 2017

Perwakilan organisasi pekerja sedang mendengarkan penyampaian materi dari BNNP. (Istimewa)

Banjarmasin, KP – Pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba), yang dilakukan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BBN) Kalsel secara menyelur. Tidak hanya lingkungan keluarga dan pelajar atau masiswa yang dilibatkan.

Namun, organisasi pekerja juga turut dilibatkan dalam menanggulangi barang haram tersebut. Rabu (11/10), bertempat di Aula BNNP Kalsel, sebanyak 20 organisasi dihadirkan untuk diberikan pemahaman tentang bahaya penyahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Ke-20 instansi tersebut adalah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Organisasi Angkutan Darat (Organda), PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Kamar Dagang dan Industri (KADIN), Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (GAPENSI), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (ASPERINDO), Hiswana Migas, dan Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNNP Kalsel, H Ipansyah menjelaskan, tujuan menggandeng organisasi pekerja tersebut untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat luas khususnya pekerja.

Agar, terciptanya proses perubahan dan tumbuhnya karakter serta perilaku anti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. “Selain itu, juga memberikan pemahaman yang jelas dan tegas kepada pekerja mengenai berbagai dampak buruk penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, serta upaya pencegahan yang diterapkan secara nyata,’’ ujarnya.

Menurut Ipansyah, pada kesempatan tersebut diberikan pemahaman yang jelas dan tegas kepada lingkungan pekerja mengenai dampak buruk penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Selain itu, bagi yang terlanjur menjadi pengguna narkoba bisa menanggulanginya, yaitu dengan rehabilitasi.

“Seluruh peserta di sini kami harapkan bisa memahami bahaya narkoba, dan menyosialisasikan kembali apa yang sudah kami berikan. Ini penting agar setiap orang melakukan pencegahan di lingkungan masing-masing,’’ pintanya.

Dalam diskusi tanya jawab, peserta menanyakan mengenai kemungkinan Carnophen atau Zenith dimasukkan ke dalam Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika. Peserta juga menanyakan bagaimana cara mengajak seseorang untuk direhab.

“Ssebenarnya pecandu adalah orang sakit dan wajib direhabilitasi. Untuk rehabilitasi ini sangat gampang caranya. Tinggal datang dan melapor ke kantor BNN. Kami jamin akan diobati, bukan diproses hukum,’’ tambah Kasie Pencegahan Iskandar Adam.

Ia berpesan, banyak hal yang dapat dilakukan organisasi dalam mencegah penyalahgunaan narkoba. Antara lain, memasukkan P4GN dalam program CSR, dan diberlakukannya tes urine secara berkala. “Juga penting adanya peraturan perusahaan mengenai sanksi bagi penyalahgunaan narkoba,’’ urainya.(mns/K-4)

You must be logged in to post a comment Login

LANGGANAN BERITA Via EMAIL
Update Berita Terbaru Seputar Kalimantan
Kalimantan Post - Asli Koran Banua.