• Hari ini : Sabtu, 20 Januari 2018

Akibat Hujan dan Angin Petani Cepat-cepat Menuai Padi

PANEN LEBIH AWAL – Karena faktior cuaca hujan dan angin petani swah di Kertak Hanyar dan Gambut Kabuoten Banjar memanen sawahnya lebuih awal karena padi banyak yang roboh. (Nets)
PANEN LEBIH AWAL – Karena faktior cuaca hujan dan angin petani swah di Kertak Hanyar dan Gambut Kabuoten Banjar memanen sawahnya lebuih awal karena padi banyak yang roboh. (Nets)

BANJARMASIN, KP – Petani di Kecamatan Gambut dan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, kini terpaksa cepat-cepat menuai padi sawah mereka agar padi tidak rusak.

“Kalau kami tidak segera menuai padi bisa cepat rusak atau membusuk sehingga tidak menghasilkan samasekali,’’ tutur keluarga Suri, warga tani Kecamatan Kertak Hanyar, Selasa.

Pasalnya, lanjut ayah dari tiga anak itu, tanaman padi sawah mereka, baik yang siap panen maupun baru menguning banyak tumbang karena terpaan angin kencang pada Senin (29/8) sore.

Selain itu, buah padi tersebut terendam air, karena berbarengan angin kencang turun hujan lebat, sehingga air juga merendam persawahan, ujarnya.

Menurut dia, masih mending (untung) kalau tanaman padi yang tumbang itu sudah siap panen, sehingga menuai dengan segera.

“Tapi kalau tanaman padi yang tumbang itu baru mengurai, maka tidak ada harapan lagi bisa panen. Hal tersebut salah satu kerugian bagi kami sebagai petani,’’ kata Suri.

Ia mengaku, pertumbuan dan perkembangan tanaman padi di sawah mereka pada musim tanam kali ini cukup baik sebagaimana keadaan tahun lalu.

“Namun tidak terduga datang angin kencang dan hujan lebat, sehingga tanaman padi tumbang dan buahnya terendam air,’’ lanjutnya.

“Padahal kami berharap hasil panen padi tahun ini lebih baik dari tahun lalu per borong (10 X 10 depa) mencapai 12 kaleng (20 liter/kaleng),’’ demikian Suri.

Pengakuan serupa dari keluarga Miah, petani Kecamatan Gambut yang pada panen tahun lalu mencapai ratusan kaleng padi atau gabah kering panen (gkp).

Warga tani Kecamatan Gambut tersebut belum bisa memperkirakan hasil panennya tahun ini, karena baru memulai panen dan masih banyak tanaman padi dia yang belum mengurai/sedang bunting.

Sementara Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kalsel Muharram berharap, peristiwa alam yang mengganggu pertanaman padi tidak terlalu signifikan mempengaruhi/membuat penurunan produksi padi di provinsi yang terdiri atas 13 kabupaten/kota tersebut.

Karena sentra pertanian di Kalsel bukan cuma Kabupaten Banjar, tapi juga daerah lain seperti Kabupaten Barito Kuala (Batola), Tanah Laut (Tala) serta “Banua Anam,” lanjutnya.

Banua Anam atau daerah hulu sungai Kalsel itu meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Kabupaten Tabalong.

“Kita berharap produksi padi Kalsel tahun ini tetap surplus sebagaimana dua tahun terakhir, kendati terjadi penurunan produksi karena pengaruh musim kemarau panjang,’’ demikian Muharram.

Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalsel, produksi padi provinsi tersebut dalam dua tahun terakhir sekitar dua juta ton gkp atau mengalami penurunan lebih kurang dua persen bila dibandingkan dengan tahun 2013. (net/K-7)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua