• Hari ini : Sabtu, 20 Januari 2018

Alat Berat Gusur Tanaman Karet Sengketa

ALAT BERAT - Didatangkan juru sita Pengadilan Negeri Rantau guna melakukan penggusuran atau merobohkan batang-batang karet yang tumbuh di lahan sengketa tanah antara pihak warga dengan PT Balimas. (KP/H Basri)
ALAT BERAT – Didatangkan juru sita Pengadilan Negeri Rantau guna melakukan penggusuran atau merobohkan batang-batang karet yang tumbuh di lahan sengketa tanah antara pihak warga dengan PT Balimas. (KP/H Basri)

Rantau, KP – Juru sita Pengadilan Negeri (PN) Rantau datangkan dua alat berat dan pengawalan super ketat dari aparat Kepolisian dan Kodim 1010 Rantau serta Satpol PP pemkab Tapin.

Penggusuran batang karet dengan menggunakan dua alat berat bini adalah rangkaian proses eksekusi terhadap putusan Pengadilan Rantau yang sudah inkrah atau mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena sudah melalui prosedur hukum banding dan Kasasi melalui Mahkamah Agung.

Pelaksanaan eksekusi ini dilakukan oleh petugas juru sita Pengadilan Negeri Rantau yang dipimpin oleh Hj. Masdariah,SH serta dengan pengawalan dari aparat kepolisian dan TNI dari kodim 1010 Rantau serta Satpol PP Pemkab Tapin di desa Kalumpang Shabah kecamatan Bungur kabupaten Tapin Selasa (22/11) kemarin.

“Eksekusi ini adalah merupakan perintah langsung dari Ketua Pengadilan Negeri Rantau dan harus dilakukan, makanya pada hari ini kita lakukan eksekusi itu,” ungkapHj. Masdariah SH selaku petugas juru sita Pengadilan Negeri Rantau.

Sementara itu pihak Pengacara warga Rio Ariady, SH dari Advokat Jakarta mengatakan bahwa sengketa lahan antara pihak warga desa Kalumpang Shabah dengan PT. Banua Lima Sejurus (Balimas) ini ditanganinya  sejak tahun 2012 yang lalu.

“Setelah kita ketahui bahwa lahan yang dikuasai oleh PT. Balimas ini adalah milik warga yang sudah ada sertifikatnya sepuluh tahun sebelum adanya HGU PT. Balimas,” ungkapnya.

Menurut Rio dengan adanya dukomen kepemilikan tanah oleh warga ini maka pihaknya selaku kuasa hukum dari  warga melakukan tuntutan melalui pengadilan Negeri Rantau dan menang.

“Begitu pula di tingkat Banding dan Kasasi kita pun menang, karena surat-surat dan bukti dukomen kepemilikan tanah oleh warga sah dimiliki sejak sepuluh tahun sebelum HGU dikeluarkan,” tandasnya.

Sementara itu HM. Nafiah salah satu warga desa Kalumpang Shabah yang mengaku lahan yang dikuasai dan ditanami oleh PT. Balimas adalah merupakan lahan milik warga yang sudah digarap sebelumnya dengan tanaman perkebunan seperti kacang tanah, pisang dan bahkan adapula tanaman karet.

Dijelaskan oleh HM. Nafiah tanah yang disengketakan tersebut pada mulanya adalah milik warga yang terdiri dari lahan I seluas 26,77 hektar, lahan II seluas 47,34 hektar dan lahan III lahan ber SKKT  seluas 46,74 hektar dan sejak tahun 1992 telah diserobot dan ditanami karet oleh pihak PT. Balimas.

“ Dan setelah keluar putusan PN Rantau pada Selasa tanggal 21 Januari 2014 nomor 07/Pdt.G/2013/PN.Rtu dan putusan Banding pada Rabu tanggal 7 Mei 2014 dan putusan Kasasi Mahkamah Agung pada Rabu tanggal 22 April 2015 gugatan kami dikabulkan,” ungkap HM. Nafiah yang didampingi sejumlah warganya.

Begitu pula menurut pengakuan dari Aisah yang juga mengaku tanah miliknya yang dikuasai oleh PT. Balimas padahal sebelumnya lahan ini merupakan lahan perkebunannya yang pernah digarapnya dengan banyak tanaman seperti kacang tanah dan pisang.

Adapun eksekusi lahan sengketa yang sedang dilakukan eksekusi olehj juru sita Pengadilan Rantau berjalan aman dan lancar tanpa ada halangan atau gangguan dari manapun walaupun banyak aparat dan petugas yang mengamankan jalannya eksekusi ini dengan merobohkan batang-batang karet dengan dua alat berat yaitu Bolduzer dan Aksevator yang didatangkan kelokasi. (ari/K-6)

Tag:
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua