• Hari ini : Selasa, 20 Februari 2018

Antisipasi Kemacetan di Banjarmasin Makin Parah

Tampak kemacetan yang terjadi di satu kawasan di Kota Banjarmasin beberapa waktu lalu.

BANJARMASIN, KP – Kemacetan arus lalulintas di Kota Banjarmasin semakin hari kian memprihatinkan. Jika mengacu pada pertumbuhan kendaraan bermotor yang terus mengalami peningkatan dan tidak sebanding dengan kondisi jalan, diprediksi tahun 2020 kemacetan di ibu kota Kalsel ini akan semakin parah.

Bahkan, menurut anggota komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Drs Syahrani MT mengatakan, tidak menutup kemungkinan kota yang sedang menuju sebagai kota metropolitan ini akan mengalami nasib sama seperti ibu kota Jakarta.

“Betapa tidak, saat sekarang saja hampir di semua ruas jalan di Banjarmasin sudah sering mengalami kemacetan karenanya saya tidak bisa membayangkan bagaimana kota ini dalam beberapa tahun kedepan,’’ katanya.

Kepada KP, Senin (31/7), pembangunan jalan layang atau fly over di Jalan A Yani hanyalah sekedar salah salah satu langkah awal antisipasi untuk menanggulangi kemacetan yang kini sudah mulai dirasakan.

Mengingat, katanya, Jalan A Yani merupakan pintu gerbang keluar masuk kota Banjarmasin.

Disamping sepanjang kawasan jalan protokol itu dinilai sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan pelebaran.

Menurutnya, menyadari hampir semua ruas jalan di Kota Banjarmasin relatif sempit dan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan bermotor, maka pembangunan fly over tidak lah cukup di Jalan A Yani, tapi juga harus diprogramkan di sejumlah titik sentral yang selama ini dinilai rawan kemacetan.

Lebih jauh anggota dewan dari Partai Nasdem ini mengemukakan, mengutip laporan yang disampaikan Pelindo III Cabang Banjarmasin, bahwa pertumbuhan atau peningkatan kendaraan baik roda dua dan roda empat yang masuk ke Pelabuhan Trisakti berdasarkan data dilaporkan setiap bulannya mencapai ribuan unit.

Sementara, lanjutnya, pertubumbuhan insfrastruktur pembangunan jalan, khusus pembuatan jalan baru di Kota Banjarmasin dirasakan sama sekali tidak sebanding dengan meningkatnya jumlah kendaraan.

Menyadari hal demikian, tidak ada alternatif lain selain dibutuhkan jalan layang atau flyo ver, Pemko Banjarmasin harus memprogramkan secara serius pembangunan jalan baru dan melakukan analisa ruas jalan yang memicu kemacetan.

“Salah satu yang perlu dianalisasi dan perlu dikaji kembali adalah seperti banyaknya belokasn pada ruas jalan,’’ tandas Syahrani.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin, Ichwan Noor Chalik membenarkan, perlu langkah kajian dan rekayasa lalu lintas untuk mengurangi kemacetan arus lalu lintas di ibukota Provinsi Kalsel ini.

Dikatakan Ichwan Noor Chalik, dari hasil kajian Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin dari sekian permasalahan arus lalu lintas yang sering memicu kemacetan adalah akibat banyaknya belokan yang berdampak melambatnya arus kendaraan.

Mengantisipasi hal itu, Dishub telah memprogramkan memasang road barrier di sejumlah belokan, seperti di kawasan Jalan Pangeran Antasari, Jalan Achmad Yani, Jalan Brigjen H Hasan Basry (Kayu Tangi) tepatnya depan Gedung Sultan Suriansyah dan sejumlah ruas jalan lainnya.

Menurutnya, Dishub kini telah memprogramkan untuk memasang media jalan secara permanen di sejumlah belokan dan itu sebagian sudah kita laksanakan. Hasilnya dengan ditutupnya belokan itu arus lalu lintas cukup lancar, demikian kata Ichwan Noor Chalik, seraya mengakui dampak penutupan belokan itu para pengguna jalan akan relatif jauh untuk menuju belokan yang ada.

Lebih jauh ia mengemukakan, Dinas Perhubungan Kota Banjarmasin telah melaksanakan rapat Forum Lalu Lintas Kota Banjarmasin yang berlangsung di Hotel Jelita belum lama ini.

Dalam rapat dengan mengundang Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Banjarmasin serta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan Satpol PP Kota Banjarmasin itu setidaknya ada empat point yang menjadi pembicaraan hangat.

Keempat point itu adalah, evaluasi pembongkaran Penerangan Jalan Umum (PJU di persimpangan Jalan Anang Adenansi (Kamboja), kedua evaluasi geometrik Simpang Tiga Tower PDAM Jalan Jafri Zamzam, ketiga evaluasi manajemen rekayasa lalu lintas dan rencana pengurangan hambatan di persimpangan Pasar Malabar yang terkoneksi dengan Jembatan Antasari. (nid/K-5)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua