• Hari ini : Sabtu, 21 Juli 2018

“Apa yang Dilakukan, Saya Bertanggungjawab”

10-4-klm-5-cm-warisan

Banjarmasin, KP – “Apa yang dilakukan, saya bertanggungjawa bila saya melanggar hukum atau prosedur  yang ada atau bahkan menipu. Pembeli berhak melaorkan saya ke pihak berwajib dan saya sebagai penjual bertangungjawab,’’ kata drg Soesiana Ningsih Ongkowidjojo, dalam surat pernyataannya yang diterima  KP, Selasa (1/11) sekaligus katanya klarifikasi kesimpang siuran berita.

Dijelaskannya lagi, pada tahun 2009, Lilicia Artatie Gunawan sudah pernah menjual sebidang tanah di Jalan Gatot Subroto Banjarmasin dengan sertifikat 783 dan 784 yang sudah dimatikan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN)  ke Husin Wijaya.

“Tetapi kenapa sertifikat yang sudah dimatikan oleh BPN kembali ada di Lilicia Artatie Gunawan ?. Ada niat apakah ini?,’’ ujar Soesiana .

Bahkan katanya seperti dijlaskan saat press conference beberapa waktu lalu bahwa pada tahun 2009, Husin Wijaya sudah pernah mempekarakan ini secara perdata yang diawali  di Pengadilan Negeri (PN) dengan nomor putusan 52/PT\DT.PTW/2009.PN BJM dan dinyatakan kalah oleh PN, sehingga yang bersangkutan melakukan banding ke Penghadilan Tinggi (PT).

Diputuskan oleh PT dengan nomor 29/PGT/2010/PT BJM dan yang bersnagkutan itu menghentikan langkahnya atau tidak kasasi.

Sehingga putusan PT itu menjadi inkrah. “Sehingga menurut saya kalau sertifikat yang sudah dimatikan BPN, ada di pihak Lilicia dan Aslan Gunawan adalah hal yang unik?. apakah mencoba mengelabui polisi, publik dan institusi pemeritah lain?,’’ ujar Soesiana.

Selain itu dijelaskan, dimaksud dengan pemalsulan sertifikat?. Apakah produk BPN itu palsu, karena BPN sendiri sudah mengeluarkan surat sesuai prosedur.

“Sehingga cukup mengejutkan bila sertifikat asli atau sah yang saya miliki dikatakan palsu,’’ ujarnya lagi.

Apakah pernah tertra nama Budiman Gunawan dalam Sertifikat Hak Milik (SHM) nomor 783 dan 784 yang berlokasi di Jalan Gatot?.

“Perlu saya jelaskan bahwa sertifikat-sertifikat yang dianggap sebagai boendel waris oleh pihak Lilicia  dan Aslan Gunawan, tidak benar adanya, dikarenakan dalam sertifikat itu tidak pernah tertera atasnama almarhum Budiman Gunawan, kecuali sertifikat HGB N 219 yang berloaksi di Jalan RK Ilir, yang sudah dikembalikan ke P Pemko Banjarmasin, karena jalur hijau.”

“Memang banar saya menantu dari almarhum Budiman Gunawan dan memang saya bukan ahli waris yang langsung. Akan tetapi saya adalah istri almarhum Suryadi Gunawan, yang mana almarhum Suryadi adalah anak kandung ahli waris yang sah dari almarhum Budiman Gunawan yang meninggal 16 Maret 2001,’’ bebernya.

“Dengan dimikian saya dana anak-anak adalah ahli waris yang sah terhadap almarhum Budiman Gunawan dan almarhum Suryadi Gunawan.

Tetapi dalam permasalahan ini tidakk menyangkut masalah boendel waris. Makanya dalam sertifikat hak milik SHM no 783 dan 784 di Jalan Gatot Subroto serta sertifikat lainnya.

Kecuali HGB No 210, tidak dianggap boendel waris oleh pihak Lilicia dan Aslan, tidak tertera nama almarhum Budiman Gunawan.

“Bahkan pihak Lilicia dan Aslan, sudah penah membawa masalah boendel waris gugatan perdata, akan tetapi gugatan mereka ditolak dikarenakan tak bisa membuktikan dalam masaa ini adalah boendel waris daro almarhum Budi Gunawan, tentang tanah di Jalan Gatot Subroto, di Jalan A Yani dan bengkel Gunawan serta sertifikat lainya yang diajukan, bukan harta peniggalan almarhum Budiman Gunawwan, melainkan murni kekayaan harta almarhum Suryadi Gunawan.
Alasan lain kenapa sertifikat dimatikan oleh BPN ada di pihak Lilicia dan Aslan ?.
Karena katanya, tisak mengikuti anjuran BPN yaitu selama 14 hari setelah diumunkan di koran harus mengembalikan ke BPN. Tetapi mereka tidak sampaikan ke BPN.

“Sehingga BPN tertibkan sertifikat yang asli dan baru untuk saya miliki. Didasarkan oleh menang Peninjuan Kembali (PK) nomor 303/PK/pPFT/2004 tanggal 3 April 2008 dan telah diesekusi oleh pengadilan secara sah dan sudah diumunkan di koran oleh BPN No 30/300/17-63/71/1/2010 tanggal 26 Januari 2010. Tetapi sertifikat yang sudah dimartikan itu tetap beredar sampai hari ini, ‘’ ujarnya. (K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua