Amuntai, KP - Sekilas melihat cara membuat anyaman tikar purun, nampak sangat sulit, namun tidak bagi kalangan warga Desa Banyu Hirang Kecamatan Amuntai Selatan Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), yang sebagai warga dalam kesehariannya mengayaman purun. Desa Banyu Hirang merupakan salah satu sentra kerajinan anyaman purun yang ada di HSU.
Bagi kalangan warga di sini, menganyam purun bukanlah hal yang sulit. Jari-jari lentik anak SD pun sudah lihai mengayam helai demi helai purun, maupun anyaman eceng gondok yang saat ini, mulai dikembangkan.
Hasil anyaman purun yang berasal dari batang pohon purun untuk dijadikan satu tikar purun ukuran 3 x 1,5 meter, hanya dikerjakan dalam satu hari, padahal, sekilas helai demi helai purun tersebut untuk dijadikan anyaman sebuah tikar nampak rumit.
Bahan baku purun sendiri, selain didapat dari perairan rawa-rawa di HSU, juga dibeli di Pasar Alabio, yang berasal dari wilayah perairan Barito Kalimantan Tengah.
Batang purun, selanjutnya ditumbuk sampai menjadi helai demi helai lalu dianyam menjadi sebuah tikar, bakul, topi dan lainnya.
Keahlian yang dimiliki warga di sini sudah diwariskan sejak turun temurun. Bahkan secara alamiah bagi kalangan anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) pun sudah bisa menganyam helai demi helai purun untuk dijadikan sebuah tikar.
Saniah (40), warga Desa Banyu Hirang RT 01 misalnya, dirinya sudah puluhan tahun melakoni pekerjaan menganyam purun, terkadang dibantu anaknya yang duduk di bangku kelas empat SD.
Anaknya itu, sudah bisa menganyam purun untuk dijadikan sebuah tikar. Setiap habis pulang sekolah, anaknya membantunya menganyam untuk dijadikan hasil kerajinan.
``Mereka bisa sendiri menganyam tanpa belajar dari para orang tua, mungkin karena sering melihat para orang tua sehari-hari,’’ kata Saniah, beberapa waktu lalu.
Ternyata keunikan hasil anyaman purun oleh warga HSU ini, populer sampai ke luar daerah seperti Bali. Jenis hasil anyaman purun yang dikirim ke Bali adalah bentuk butah.
``Biasanya dikirim ke Bali adalah jenis butah (tempat keranjang),’’ terangnya.
Hingga saat ini, bukan hanya berbagai purun yang sudah dijadikan hasil kerajinan perabotan tumah tangga, akan tetapi keahlian warga menganyam dikembangkan dengan menganyam tanaman khas air, yakni eceng gondok yang banyak dijumpai di daerah perairan rawa. (nov/K-6).



