Kalimantan Post - Koran Asli Banua

Update Terakhir :08:29:53 AM GMT

Headlines:
>> Banua Kita Barabai Harga Karet di Wilayah Utara Tabalong Stabil

Harga Karet di Wilayah Utara Tabalong Stabil

E-mail Cetak PDF

Tanjung, KP – Para petani karet, khususnya di wilayah utara Kabupaten Tabalong, dalam beberapa bulan terakhir bisa menikmati hasil kebun dengan baik, pasalnya, harga keemasan karet stabil yakni antara Rp11 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram.
Seperti yang diungkapkan Ahmad Jayadi, seorang pengepul karet Desa Mahe Pasar Kecamatan Haruai Kabupaten Tabalong, kepada KP, Rabu (30/6), bahwa paling rendah harga karet untuk beberaba minggu terakhir, ia membeli karet dari petani karet Rp11 ribu per kilogram.

Menurut Jayadi, ia sendiri akan menjual ke pabrik di Banjarmasin dengan harga Rp14 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram. ``Jadi kita masih bisa mengambil keuntungan setelah dipotong biaya transportasi dan lainnya,’’ ujarnya.

Dijelaskannya, rata-rata penghasilan per kepala keluarga di desa ia tinggal berkisar antara Rp700 ribu sampai Rp1 juta per minggu dari hasil menyadap karet. ``Rata-rata penghasilan masyarakat di atas Rp500 per minggu, ini cukup untuk kehidupan mereka, jika harga karet bisa stabil seperti ini,’’ tukas Jayadi.

Diceritakannya, beberapa waktu yang lalu, harga karet pernah turun hingga angka Rp2.500 per kilogram, sehingga petani karet khususnya yang berada di wilayah utara seperti Kecamatan Haruai, Bintang Ara, Muara Uya, Upau dan Jaro, banyak yang mengeluh. ``Sewaktu harga karet Rp2.500 per kilogram, petani karet banyak yang mengeluh, lantaran kebanyakan mereka hanya mengandalkan penghasilan dari situ, sehingga turunnya harga karet sangat terasa berat,’’ terangnya.

Dari pantauan KP di lapangan, harga karet jenis lum berkisar antara Rp11 ribu sampai Rp12 ribu per kilogram, sementara harga karet asapan antara Rp17 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram, kebanyakan dari masyarakat di wilayah utara Tabalong yang diprioritasan pemerintah setempat untuk perkebunan, mengolah karetnya dengan sistem getah lum. ``Getah lum ini, kebanyakan dipilih oleh masyarakat lantaran praktis,’’ ujar Budi, salah seorang penyadap karet dari Desa Mahe Pasar Kecamatan Haruai, kepada KP. (ros/K-6)