Kedatangan mahasiswa tersebut, disambut langsung Bupati HSS HM Safi’i, unsur Muspida, Sekda H Achmad Fikry dan para camat, di halaman kantor bupati setempat, Rabu (10/3), di Kandangan.
Pada kesempatan itu, Bupati HM Safi’i mengatakan, agar para mahasiswa KKN dari IAIN Antasari bisa menghapus anggapan bahwa kedatangan mereka memberatkan masyarakat. ``Jawab kekhawatiran itu bahwa tidak demikian,’’ pesannya.
Pasalnya, pada Tahun 70-an masyarakat bangga didatangi oleh mahasiswa untuk KKN, bahkan masyarakatnya sendiri yang datang memintanya. Akan tetapi di Tahun 80 s/d 90-an ada anggapan di masyarakat, datangnya mahasiswa KKN memberatkan. Jadi dengan ini, di Tahun 2010 mahasiswa KKN bisa meringankan dan menghapus semua anggapan itu di masyarakat.
Selain itu, mahasiswa yang KKN di Kabupaten HSS sejalan dengan kebijakan Pemkab. Dengan agendanya berusaha keras untuk memandirikan masyarakat. Selain itu, menjadikan keunggulan daerah karena Pemkab sendiri bertekad mengembangkan keunggulan religius.
Menurut Drs Ahmad Nur, selaku kepala pusat pengabdian masyarakat mengatakan, rombongan yang berjumlah 363 orang tersebut, terdiri dari mahasiswa KKN berjumlah 341 orang, supervisor KKN 12 orang serta pimpinan dan BPKKN 10 orang.
Dan mereka KKN ini, tersebar di enam kecamatan dari 11 kecamatan yang ada di Kabupaten HSS.
``Kecamatan itu antara lain, Angkinang, Sungai Raya, Kalumpang, Tiga Daha (Daha Utara, Daha selatan, dan Daha Barat),’’ sebutnya.
Menurutnya, mahasiswa melaksanakan KKN dalam setahun dua kali. Dan yang KKN kali ini, merupakan mahasiswa semester delapan. ``Sebelum di Kabupaten HSS ini, para mahasiswa melaksanakan KKN di Kabupaten Tanah Laut,’’ terangnya.
Tujuannya, agar para mahasiswa bisa belajar hidup di masyarakat, dan mengembangkan ilmunya yang telah didapatkan selama menimba ilmu di perguruan tinggi.
Selain dapat memberikan ilmu pada orang lain, sambungnya, para mahasiswa juga bisa belajar langsung bagaimana kehidupan di daerah orang lain. Tidak hanya itu, mahasiswa diharapkan juga dapat bersatu dengan masyarakat dan bisa memecahkan problem yang sulit di masyarakat.
``Mereka akan tinggal di desa di enam kecamatan yang telah disediakan, dengan cara bermalam di sana selama dua bulan, tidak boleh pulang dan memasak makanan sendiri,’’ tandasnya.
``Kami memilih tempat KKN tidak di pinggiran kota, akan tetapi jauh dari kota. Agar mahasiswa tahu bagaimana kehidupan di sana dan sekaligus bisa membantu masyarakat yang ada di sekitarnya,’’ demikian Ahmad Nur. (noi/K-6)



