Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kotabaru, Suhartati SST, MPH, di Kotabaru mengatakan, dari 461 wanita yang memeriksakan diri, delapan orang di antaranya positif ditemukan biang penyebab kanker leher rahim.
``Delapan wanita tersebut, harus krio terapi untuk membasmi bibit kanker agar tidak menjadi kanker leher rahim,’’ jelasnya, belum lama tadi.
Untuk memastikan bahwa biang kanker leher rahim tersebut telah mati, kata dia, perlu evaluasi setelah enam bulan pascakrio terapi.
``Jika tetap ditemukan, maka wanita tersebut harus dioperasi karena biang itu telah menjadi kanker rahim, karena dapat menyebabkan kematian,’’ tukasnya.
Koordinator See and Treat Banjarmasin dr Suka Dwi Raharjo, SpPA, mengatakan, jika dibiarkan selama 20 tahun, biang tersebut akan menjadi kanker dan harus segera dioperasi.
Oleh sebab itu, lanjut Raharjo, untuk mencegah terjangkitnya kanker leher rahim, wanita di Kotabaru diimbau untuk melakukan pemeriksaan sekali dalam setahun.
``Atau paling malas, sekali seumur hidup periksa,’’ tambahnya.
Menurutnya, potensi terjangkit kanker rahim bagi wanita di Kotabaru masih di bawah rata-rata Kalimantan Selatan.
``Rata-rata lima persen atau sekitar 20 dari 400 wanita di Kalsel positif menderita kanker leher rahim,’’ ungkapnya.
Menurut Suhartati, ada beberapa tips untuk terhindar dari menjangkitnya kanker leher rahim, di antaranya tidak kawin di bawah 16 tahun, menjaga kebersihan di daerah kewanitaan, dan menghindari bergonta-ganti pasangan hubungan intim, baik untuk wanita ataupun pasangannya.
``Intinya setia dengan pasangan suami istri,’’ tegasnya.
Karena keberadaan biang kanker serviks tidak dapat dirasakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mendeteksi indikasi kanker serviks secara dini.
Di antaranya, timbulnya rasa sakit setelah berhubungan intim, perdarahan pasca coitus, timbulnya lendir yang lebih banyak dan berbau di jalan lahir, serta timbulnya pendarahan setelah hubungan badan pada pasangan yang telah monopause. (ant/K-6)



