Camat Simpang Empat Drs Kursani menyebutkan, KTP nasional sudah menjadi program nasional, di Kecamatan Simpang Empat permintan pembuatan KTP tersebut cukup tinggi.
``Setiap hari terdapat pemohon antara 25 sampai 30 orang, yang mengajukan permohonan pembutan KTP itu,’’ ujarnya, belum lama tadi.
Camat mengakui, dari sekian yang mengajukan, bisa selesai paling 15 sampai 20 lembar sehari, selebihnya karena kurang persyaratan, misalnya, saat pengajuan pemohon tidak melampirkan kartu keluarga, bisa juga nama pemohon belum tercantum, sehingga perlu pengurusan ke bawah lagi seperti ke RT, ke kantor desa, setelah itu baru ke kecamatan.
Tingginya permintaan tersebut, sambungnya, seperti diketahui Simpang Empat merupakan kawasan padat penduduk, selain itu, usaha masyarakat terfokus di kecamatan ini, sehingga jumlah penduduk pun terkonsentrasi di kecamatan ini.
Menyinggung kendala, camat mengatakan tidak ada, kalaupun ada paling masalah keterlambatan saja, karena data yang disampikan tidak lengkap, sehingga proses pembuatan juga tertunda.
Hal lain, tenaga operator dan perangkat semua siap, jadi tidak ada masalah dalam permintaan pembuatan KTP nasional ini.
Sebelumnya, Kasi Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Simpang Empat, Monang mengatakan, hal serupa, memang sangat tingi intensitas pembuatan KTP, meski begitu pelayanan untuk pembuatan tersebut tidak masalah.
``Namun, dari sistim ini kita belum bisa online, sehingga Dinas Catatan Sipil dan kecamatan lain, tidak dapat mengetahui pemohon yang sudah mengajukan pembutan KTP tersebut,’’ katanya.
Dari program pembutan KTP nasional yang mulai berjalan, lanjut Monang, setidaknya ada terobosan baru yang telah dilaksnakan Dinas Catatan Sipil, sebab dinas juga melaksanakan kerjasama dengan gereja, untuk melakukan pencatatan setiap perkawinan non muslim yang dilaksanakan di gereja, dalam saat yang bersamaan Catatan Sipil, juga mengeluarkan surat, selain yang dikeluarkan lembaga di gereja. (han/K-6)



