Terumbu Karang Buatan (TKB) ini, terbuat dari beton (semen) dengan diberi kawat betoniser (sebagai tulang) untuk penguat fisiknya. Yang terlibat dalam kegiatan ini, antara lain Tenaga Ahli Pendamping, Pokmaswas Karang Kima, Penyuluh Perikanan, Pemuda Sahabat Laut (PSL), Aparat Desa dan Karang Taruna.
Guna kelancaran kegiatan, sarana ditunjang dengan perahu motor dan peralatan scuba yang lengkap, disertai peralatan underwater camera untuk dokumentasi selama kegiatan berlangsung. Pyramid ini berukuran 50 x 50 x 60 cm, dengan berat 40 – 60 kg per buah, dicetak secara khusus oleh warga Angsana.
Penyuluh Perikanan/Pemerhati Terumbu Karang Wilayah Kerja BP3K Angsana - BP3KPD Kabupaten Tanbu Eko Prio Raharjo S.Pi mengatakan, pembuatan terumbu karang buatan ini merupakan bantuan pemerintah pusat yakni dari Dirjen Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Departemen Kelautan dan Perikanan tahun anggaran 2009, melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tanbu.
Ditambahkannya, bantuan tersebut diberikan secara langsung kepada Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) ‘Karang Kima’ yang ada di Desa Angsana pada kegiatan PNPM-KP Tahun 2009. Kegiatan ini dimaksudkan, agar bisa menumbuh kembangkan kesadaran betapa pentingnya pelestarian sumberdaya hayati kelautan dan perikanan yang ada di daerah-daerah yang mempunyai wilayah pesisir khususnya.
Dijelaskannya TKB adalah, suatu cara untuk memperbaiki kondisi lingkungan terumbu karang yang rusak, karenanya TKB merupakan wadah sekaligus tempat biota laut hidup bersimbiosis. Tanpa terumbu karang, ikan, kepiting dan biota laut lainnya tak akan hidup, terumbu karang juga tempat ganggang, alga, anemone hidup berkembang biak. ``Adanya TKB ini, diharap membawa dampak positif kepada kehidupan lingkungan habitat air,’’ tandasnya.
Seperti diketahui, ada berbagai macam bentuk terumbu karang buatan, salah satunya bentuk Pyramid. ``Bentuk pyramid ini mempunyai keunggulan karena, punya daya tahan terhadap gempuran arus dan gelombang, lantaran punya bagian dasar yang relatif besar dari bagian atasnya, sehingga lebih kuat terhadap hantaman gelombang,’’ terangnya.
Adapun cara kerja TKB lanjut Eko, pada keempat sisi pyramid diberi lobang sehingga ada 12 lobang per buahnya. Lobang-lobang ini, dimaksudkan sebagai pintu bagi ikan-ikan keluar dan masuk untuk bersarang di dalamnya. Selanjutnya, Pyramid-pyramid diletakan berdekatan dengan Karang Kima, salah satu gugusan karang yang terbesar di Angsana. Setelah 15 hari kemudian dilakukan monitoring, pada saat monitoring ternyata permukaan pyramid mulai ditumbuhi alga dan sudah ada gerombolan ikan yang terkumpul dari family Lutjanidae, Lethrinidae, Labridae, Scaridae, Pomacentridae dan Tetraodontidae. (han/K-6)



