Bupati Bukber dengan Para Relawan

ditulis pada 5 Juni 2017
Suasana buka bersama Bupati Batola H Hasanuddin Murad dan jajaran dengan para relawan di wilayahnya

Suasana buka bersama Bupati Batola H Hasanuddin Murad dan jajaran dengan para relawan di wilayahnya

Marabahan, KP – Usai melaksanakan apel siaga pencegahan penanggulangan serta penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Bupati Barito Kuala (Batola) H Hasanuddin Murad, Wakil Bupati H Ma’mun Kaderi, Ketua DPRD H Hikmatullah, Forkopinda, Sekda Supriyono, jajaran SOPD, dan camat melaksanakan buka puasa bersama dengan para sukarelawan pemadam kebakaran.

Buka Bersama (Bukber) dengan para relawan yang berasal dari jajaran Kodim, Polres, Kejaksaan, BUMN, BUMD, perusahaan, Ormas, PMI, ORARI, RAPI, tokoh masyarakat, tokoh agama, Masyarakat Peduli Api (MPA), karang taruna, BPK/PMK, Damkar, Senkom, Tagana, BPBD, Satpol PP, dan lainnya ini, berlangsung di aula Selidah Kantor Bupati Batola, Jumat (2/6).

Sambil menunggu bedug, mereka diberikan siraman rohani oleh penceramah Ustadz H Jahran, seputar ajaran agama menyangkut keberadaan Negara termasuk dasar Pancasila.

“Kebetulan kita baru memperingati Hari Lahir Pancasila dan akhir-akhir ini juga mencuat sinyalemen yang mengusik keberadaan bangsa. Karenanya sangat tepat jika membahas keberadaan negara yang tengah santer dibicarakan akhir-akhir ini,’’ katanya.

Menurut Jahran, sesuai ajaran Islam bentuk negara itu boleh berbagai macam seperti kerajaan, republik, dan lain-lain termasuk khilafah sebagaimana yang sodorkan sebagian pihak.

Gagasan yang mereka munculkan mengacu kepada Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 30 yang artinya: Sesungguhnya aku (Allah) akan menjadikan di permukaan bumi ini seorang khalifah.

Selain itu, mereka mengacu kepada surah Annur ayat 55 yang artinya: Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan menjadikan sebagai pemimpin.

Sebenarnya, menurut Jahran, bentuk negara menurut konsep ajaran Islam itu bebas saja, yang penting memiliki tujuan kebaikan.

Jika merujuk QS Annisa ayat 59 yang memiliki arti: Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan Rasul serta pemimpin dari kalian.

Dikatakan Jahran, bentuk pemerintahan tidak mutlak hanya khilafah. Mengingat, dari ayat ini juga memerintahkan untuk mentaati pemimpin selain Allah dan Rasul.

Karenanya, kalau sekarang terbersit gagasan merubah bentuk negara yang di dalamnya terdapat beragam agama, kepercayaan serta suku, maka sebut Jahran, itu tergolong pengkhianatan, karena negara terbentuk berdasarkan kesepakatan.

Terkait isu munculnya keinginan menerapkan syariat Islam, menurut pandangan Jahran, Indonesia sebenarnya telah menerapkan itu.

Namun pandangan mereka tidak lantaran hukuman bagi pencuri tidak dipotong dan lainnya. Jahran mengatakan, mereka hanya melihat dari sisi jinayatnya tidak melihat dari maktok.

Padahal sebenarnya, bentuk hukuman yang diberikan memiliki maksud memberi efek jera. Menurut konsep ajaran Islam, lanjutnya, hukum memiliki pengertian luas dan aturan-aturan baik bermuamalah, beriman, berepublik termasuk tentang jinayat.

Penceramah itu mencontohkan, tentang Nabi Ayub yang bersumpah menghukum 100 kali dera kepada isterinya ST Rahmah lantaran dianggap kurang melayaninya saat sakit.

Padahal, ketika itu isterinya justru sedang berjuang demi kelanjutan kehidupan mereka.

Karena itu, Allah memerintahkan kepada Nabi Ayub untuk merubah bentuk hukuman dari cambuk kepada seikat rumput sesuai Al-Quran surah Syam ayat 44 artinya Dan ambilah dengan tanganmu wahai Ayub sedikit rumput dan pukulah isterimu itu dengan seikat rumput dan jangan engkau tidak melaksanakan. Sesungguhnya kami menemukan ia termasuk orang yang sabar. (adv/K-6)

You must be logged in to post a comment Login

LANGGANAN BERITA Via EMAIL
Update Berita Terbaru Seputar Kalimantan
Kalimantan Post - Asli Koran Banua.