• Hari ini : Senin, 22 Januari 2018

Buronan Dibekuk saat Makan dengan Istri

9-- 2 klm buronan - upl

Nanga Bulik, KP  – Rendiyanto bin Diak 25, tahanan yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pangkalan Bun, Kotawringin Barat, pada 9 Juli 2016 lalu, mengakui bahwa ia kabur melalui ventilasi yang ada di kamar kecil Lapas tersebut, sekitar pukul 03.00 WIB dini hari.
Hal tersebut diakui Rendiyanto saat diinterogasi di Mapolres Lamandau, beberapa jam setelah dibekuk Satreskrim Polres Lamandau di rumah mertuanya, Desa Purwareja, Kecamatan Sematu Jaya.

“(Saya kabur) lewat ventilasi WC. Saya rusak dulu ventilasinya dan kemudian saya masuk dan bergelantung menggunakan kain,’’ tuturnya.
Rendiyanto yang tak lain merupakan residivis curanmor antarprovinsi itu juga menceritakan bahwa setelah berhasil keluar Lapas, ia sempat bersembunyi di semak-semak belukar di sekitar Pangkalan Bun dan kemudian menuju ke arah Kotawaringin Lama, dan kembali mendapatkan ‘mangsa’, yakni kendaraan bermotor roda dua jenis Honda Blitz.

“Setelah kabur itu, saya dua hari di Pangkalan Bun sembunyi di hutan-hutan. Setelah dua hari, saya jalan kali menuju Kolam.
Setelah dua jam berjalan, saya lihat ada motor Blitz terparkir di pinggir jalan, dan kemudian saya ambil (curi),’’ kata residivis yang akan berulangtahun ke-25 pada Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2016.

Ia juga mengaku, alasan dirinya kabur dari LP Pangkalan Bun karena sudah tidak betah dan merasa kangen dan kasihan dengan sang isteri. Meskipun, setelah kabur dari LP-pun ia justru lebih memilih melarikan diri ke daerah Merabung, Kalimantan Barat.

“Awalnya saya memang mau langsung pulang ke Lamandau nemui isteri. Tapi pas saya kabur terus dapat motor lagi, saya langsung punya ide untuk menjual motor dulu di Kalimantan Barat sehingga hasilnya nanti akan saya kasihkan isteri,’’ bebernya.

Rendiyanto mengaku, atas kasus terdahulunya (curanmor di tahun 2015) ia divonis selama 1,2 tahun kurungan penjara. Saat dirinya kabur, dirinya baru menjalani sekitar enam bulan lebih masa tahanan.

Rendi juga menyebut, setelah kabur dari Lapas, ia memang tidak merasa tenang. Itu sebabnya dirinya seringkali menghabiskan waktu di dalam hutan untuk bersembunyi, termasuk saat berpindah-pindah lokasi dari dan menuju Kalimantan Barat, Lamandau, Sukamara, selalu menggunakan akses (jalan) perkebunan dan jalan pintas melalui jalan hutan.

Tampak masih jelas dalam ingatan Rendi, dirinya bersama kawannya berinisial K asal Kalbar juga melakukan pencurian ranmor jenis CB 125 R warna putih-biru pada 1 Agustus 2016 lalu di Desa Balai Riam, Sukamara.

Namun hingga saat ini kendaraan tersebut belum laku dijual dan hanya menjadi kendaraan operasional saja.

“Pada Senin (8/8/2016), saya baru bisa berkomunikasi dengan isteri melalui telepon, intinya isteri saya mengaku kecewa karena saya kena kasus.

Termasuk dia juga kecewa saya tidak bisa membiayai (menafkahi). Sehingga timbul pikiran saya untuk pulang ke Lamandau sekalian mau ngasih dia uang sisa saya jual motor curian yang dulu (Blitz),’’ katanya.

Rendi juga mengatakan, ia baru sampai di rumah mertuanya pada Selasa (9/8/2016) kisaran pukul 16.30 WIB, setelah menempuh perjalanan cukup panjang selama sekitar 2,5 jam. Setibanya di rumah mertua, kemudian dirinya meminta makan kepada sang isteri karena perutnya masih kosong belum ada makanan masuk sejak pagi hari.

Kala itu, dirinya tak menyadari bahwa anggota Polres Lamandau telah mengendusnya. Tak lama berselang, dirinya dibekuk saat asyik makan di hadapan sang isteri. (net/K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua