• Hari ini : Sabtu, 20 Januari 2018

Di BAP, Diduga Dipukuli Hingga Dilarikan ke RS

MARTAPURA, KP – Kendati melakukan perbuatan melanggar hukum, namun tentunya tak diperbolehkan sebagai aparat penegak hukum melakukan tindak kekerasan.

Bermula ketika Siti Linawati (35), kaget mendapati suaminya Rahmani yang sedang disel polisi, diinformasikan berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ratu Zalecha Martapura.

Yang bersangkutan terkulai lemas di bangsal perawatan kamar kelas III Ruang Penyakit Dalam RSUD Ratu Zalecha.

Wajahnya sesekali terlihat meringis menahan rasa sakit di bagian perutnya.

Menurut informasi, suaminya diduga dipukul petugas kepolisian Polres Banjar hingga dirawat di ruang penyakit dalam karena mengidap penyakit liver (hati) yang membengkak.

Ada kemungkinan korban kena liver setelah dipukuli saat di Berkas Acara Pemeriksaan (BAP atas kasus yang menjeratnya.

Versi istri korban, peristiwa dimulai pada Rabu (2/3), saat suaminya, Rahmani, ditangkap petugas Sat Resnarkoba Polres Banjar atas tuduhan terlibat kasus narkoba bersama rekannya, Dani (19).

Di atas bangsal tersebut, ruang geraknya terbatas, bukan hanya menahan rasa sakit pada lambung dan ulu hatinya, tapi juga karena borgol yang terpasang di kedua kakinya.

Ketika ditemui sejumlah awak media, warga Komplek Breman Jalan Veteran Martapura ini mengaku sakit yang dideritanya karena dipukuli aparat kepolisian saat proses BAP yang dilakukan Sat Resnarkoba Polres Banjar.

Menurut pengakuannya Sabtu (23/7), semua pertanyaan yang diajukan penyidik sudah dijawab. Tapi tetap saja dipukuli.

Perut, dada, juga bagian wajah. Lebih dari satu bulan setalah kejadian saat pemeriksaan itu, dia menahan sakit hingga akhirnya harus di bawa ke rumah sakit tiga hari lalu.

Menurut keterangan dokter, ungkap Rahmani yang ditemani istri dan beberapa saudaranya, banyak cedera dalam organ kubunya.

Ulu hatinya bengkak, diduga akibat dipukuli polisi saat pemeriksaan tidak lama setelah penangkapannya pada 4 Juni lalu.

Siti Linawati menambahkan, dia keberatan suaminya dipukuli hingga timbulnya penyakit di perutnya. Diapun telah melaporkannya ke Bidang Propam Polda Kalsel. Harapannya, ada keadilan untuk suaminya.

“Kendati suami saya bersalah, bukan berarti aparat boleh semena-mena,’’ ungkapnya.

Ditambahkan, pemukulan yang dilakukan aparat kepolisian saat proses BAP baru diketahui saat ini.

Karena sebelumnya dia, juga anggota keluarga lainnya tidak diijinkan masuk dan bertemu Rahmani saat membezuk ke tahanan Polres Banjar.

Dikonfirmasi, Kapolres Banjar AKBP Kukuh Prabowo SIK membantah terjadi tindak kekerasan oleh anak buahnya tersebut.

Menurutnya, sakit yang diderita tersangka narkoba itu bukan akibat pemukulan.

“Berdasarkan hasil uji lab, yang bersangkutan memang benar sakit liver. Tapi sakit yang dideritanya bukan karena dipukuli. Lagi pula tidak ditemukan adanya bekas-bekas kekerasan pada fisiknya,’’ ungkapnya.

Dijelaskan Kukuh, jika benar telah terjadi pemukulan saat proses pemberkasan, mestinya saat itu pula pelaporan dilakukan. Bukan beberapa bulan setelahnya.

“Namun laporan ke Propam Polda Kalsel oleh pihak keluarga Rahmani adalah hak keluarga tersangka yang menyebut dirinya sebagai korban. Namun proses tersangka di kepolisian tetap berjalan sesuai ketentuan berlaku,’’ katanya. (wan/K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua