• Hari ini : Minggu, 21 Januari 2018

Dua Pemabuk Bunuh Kakek

gabung korban

SAMPIT, KP – Kakek Aliansyah (65), tewas di tangan dua pemuda pemabuk, Selasa dinihari (2/8), sekitar pukul 01.30 WIB.

Kejadian itu menggegerkan warga Gang Rahim 4, Jalan Iskandar 30, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur (Kotim).

Diduga kuat pembunuhan itu dilakukan dua orang pemuda yang sedang mabuk, berinisial AB dan B. Keduanya tidak terima teguran korban yang melarang mereka berbuat onar dan mabuk-mabukan di daerah itu.

“Korban pertama kali ditemukan sudah tewas bersimbah darah akibat tebasan parang oleh adik kandungnya, di rumah yang didiaminya,’’ ujar Kapolres Kotim, AKBP Hendra Wirawan, saat mendatangi jenazah korban di Kamar Mayat RSUD Dr Murjani Sampit.

Aliansyah tewas dengan sejumlah luka tikaman di tubuhnya. Leher dan punggung korban juga menjadi sasaran kedua terduga pelaku tersebut, yang hingga saat ini masih belum berhasil ditangkap polisi.

AB, dan B, diduga kuat sebagai pelaku, karena ada warga yang melihat keduanya ke rumah korban, dan setelah itu pergi meninggalkan darah yang berceceran hingga beratus-ratus meter.

Namun masyarakat tidak sempat menangkapnya, karena keduanya langsung kabur.

Adik korban, Wati (39), tidak mengetahui persis kapan kakaknya dibunuh. Namun, dia mendengar ada kegaduhan di rumah korban yang berseberangan dengan tempat tinggalnya. Tidak berapa lama, kegaduhan itu hilang.

Namun sejumlah warga lainnya langsung keluar rumah dan mendatangi tempat tersebut.

Wati ikut keluar dan menanyakan kepada warga lain apa yang terjadi. Setelah itu, dia ke dalam rumah Aliansyah, dan menemukan jasad korban. Ia berteriak meminta tolong, lalu menghubungi pihak kepolisian.

“Saat jasad kami temukan, kedua pelaku sudah tidak ada di tempat. Sedangkan kakak saya itu mengalami luka parah di bagian leher, punggung dan belakang,’’ ungkap Wati.

Ketua RT 59/RW 03 Yuherdi mengatakan, antara korban dan kedua terduga pelaku memang sudah lama kenal, apalagi mereka juga tetangga sebelah rumah dan sama-sama bekerja sebagai buruh di pelabuhan yang tidak jauh dari tempat itu.

Selain itu, kedua pemuda itu memang sering berbuat onar saat sedang mabuk.

“Memang korban sering mengingatkan kedua orang itu agar berhenti mabuk-mabukan. Karena kalau mereka mabuk sering membuat onar, bahkan sering bertengkar dengan ayah ataupun keluarga mereka,’’ ungkap Yuherdi.

Peristiwa pembunuhan itu menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Anak asuh korban, Susi dan pihak keluarga lainnya, sangat berharap agar polisi secepatnya menangkap pelaku.

“Saya berharap agar polisi memberikan hukuman seberat-beratnya. Karena mereka sudah membunuh ayah saya,’’ ungkap Susi. (net/K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua