Kalimantan Post - Koran Asli Banua

Update Terakhir :08:29:53 AM GMT

Headlines:
>> Dunia Pengakuan Mantan Kopassus Jadi 'Santapan' Media Australia

Pengakuan Mantan Kopassus Jadi 'Santapan' Media Australia

E-mail Cetak PDF
Mantan anggota Kopassus berpangkat kolonel menegaskan bahwa pasukan TNI sengaja membunuh Greg Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters, Malcolm Rennie, dan Gary Cunningham yang kemudian dikenal dengan kasus `Balibo Five’ 34 tahun lalu untuk menutupi bukti invasi Indonesia atas Timtim.

BRISBANER, KP - Pengakuan mantan anggota Kopassus, Gatot Purwanto, yang mengaku menjadi saksi mata pertempuran di Balibo, Timor Timur (Timtim) tahun 1975, bahwa pasukan TNI mengeksekusi kelima orang wartawan asing yang meliput peristiwa itu menjadi `santapan empuk’ media massa Australia, Selasa (8/12).

Harian `Sydney Morning Herald’ (SMH) misalnya menurunkan berita berjudul `Balibo Five Executed, Soldier Admits’ dengan mengutip pernyataan Gatot Purwanto dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo.

Pengakuan Gatot ini juga mengisi buletin berita Stasiun TV `Saluran Tujuh’ dan `Saluran Sembilan’ Australia, Selasa pagi.

Menurut SMH, mantan anggota Kopassus berpangkat kolonel ini menegaskan bahwa pasukan TNI sengaja membunuh Greg Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters, Malcolm Rennie, dan Gary Cunningham yang kemudian dikenal dengan kasus `Balibo Five’ 34 tahun lalu untuk menutupi bukti invasi Indonesia atas Timtim.

Pengakuan Gatot bahwa pasukan TNI sengaja mengeksekusi dan kemudian membakar jasad kelima pewarta dan juru kamera jaringan Stasiun TV `Saluran Tujuh’ dan `Saluran Sembilan’ Australia itu adalah yang pertama keluar dari mulut anggota TNI yang pernah bertugas di Timtim tahun 1975.

Keluarnya pengakuan Gatot yang disebut-sebut media Australia bertindak sebagai `komandan intelijen’ di Timtim ketika itu bertepatan dengan maraknya perdebatan publik Indonesia di seputar Film `Balibo Five’ dan keluarnya keputusan Lembaga Sensor Film (LSF) yang melarang peredaran film tersebut.

Bagi Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta, semua pihak harus menghormati keputusan LSF karena keputusan tersebut mencerminkan `suara rakyat’ yang patut dihormati.

Berbeda dengan sikap TNI, maka Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia justru minta pelarangan film `Balibo Five’ itu dicabut untuk memberikan informasi kepada publik mengenai peristiwa tersebut dari sudut pandang lain dari apa yang disampaikan Pemerintah RI selama ini.

Di Australia, memori publik negara itu tentang `Balibo Five’ tidak hanya dibangun lewat suguhan film Balibo di Festival Film Internasional Melbourne dan Brisbane 2009, tetapi juga dibentuk oleh keputusan Pengadilan Glebe Coroners New South Wales (NSW) dan Polisi Federal Australia (AFP).

Pada 8 September 2009, AFP memutuskan untuk menyelidiki tuduhan kejahatan perang dalam kasus `Balibo Five’ setelah adanya kesimpulan Pengadilan Glebe Coroners NSW pada 16 November 2007 bahwa personil TNI adalah pihak yang membunuh lima wartawan Australia tersebut.

Kesimpulan pengadilan koroner yang digelar untuk melihat kasus kematian Brian Peters itu diungkapkan wakil Pengadilan Koroner NSW, Dorelle Pinch.

Pinch mengatakan kepada pengadilan bahwa kelima wartawan tersebut tidak tewas dalam kontak tembak antara personil TNI dengan Fretilin tetapi dibunuh atas perintah Komandan Lapangan Kapten Yunus Yosfiah.

Bertolak belakang dengan vonis Pengadilan Glebe Coroners NSW bahwa perintah eksekusi datang dari Yunus Yosfiah, maka pengakuan Gatot Purwanto justru membersihkan Yunus Yosfiah.

Seperti dikutip SMH, Gatot Purwanto menegaskan, Jakarta tidak menyetujui pembunuhan tersebut dan Yunus Yosfiah `tidak bersalah’.

Sejak insiden yang menewaskan Greg Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters, Malcolm Rennie, dan Gary Cunningham itu 34 tahun lalu, purnawirawan perwira TNI yang pernah bertugas di Timtim ini terus terseret ke dalam pusaran masalah ini.

Tuduhan ini pun sudah berulang kali dibantah Yunus Yosfiah yang merupakan mantan Menteri Penerangan semasa pemerintahan Presiden BJ Habibie( 1998-99) itu. (ant/K-3)