Kalimantan Post - Koran Asli Banua

Update Terakhir :08:29:53 AM GMT

Headlines:
>> Ekonomi Pelayaran Rakyat Makin Menyusut

Pelayaran Rakyat Makin Menyusut

E-mail Cetak PDF

BANJARMASIN, KP - Kapal Pelayaran Rakyat (Pelra) yang biasa disebut kapal pinisi yang sebagian badannya terbuat dari kayu berasal dari Pulau Jawa dan Sulawesi saat ini mulai ditinggalkan, namun hingga kini mereka masih eksis melakukan pelayaran.
Ditengah kondisi jaman modern yang menggunakan kapal berteknologi komputer, seperti  kapal Roro dan kapal Kontaier, jumlahnya pelayaran rakyat dari tahun ketahun mulai menyusut karena mulai ditinggalkan.

``Walau demikian, perahu layer yang biasa disebut pinisi ditengah jaman modern ini masih tetap eksis berlayar dari Pulau Jawa atau Sulawesi menuju kota Banjarmasin untuk melakukan aktifitas bongkar dan muat di Pelabuhan Martapura Bahari,'' kata Kepala Administrator Pelabuhan (ADPEL) Banjarmasin Capt Sufrisman Djaffar kepada wartawan Senin (8/3).

Namun, dari tahun ketahun kapal berlambung kayu ini mulai berkurang armadanya karena mulai ditinggalkan.

Dijelaskan Sufrisman, Kapal pinisi ini biasanya membawa pupuk urea bersubsidi disaat musim tanam petani kiriman dari Sulawesi atau keperluan bahan rumah tangga dapur yang terbuat dari plastik serta batuneser asal Kota Surabaya menuju Banjarmasin.

Kendala utama yang dihadapi kapal layar ini ketika akan berlayar kembali justru tanpa ada barang atau muatan yang mereka bawa sehingga kapal sering dalam keadaan kosong.

``Bahkan pihak Adpel, pernah menyarankan agar membawa muatan batubara karungan untuk muatan, namun pihak nahkoda menolak dengan alasan takut terjadi gesekan batubara, akibatnya kapal bisa terbakar karena kapal sendiri dominan terbuat dari bahan kayu,'' imbuhnya.

Diungkapkan, suka tidak suka memang dari tahun ketahun jumlah kapal ini terjadi pengurangan jumlah yang sandar, seiring dengan semakin sedikitnya pihak pemakai jasa memanfaatkan kapal rakyat ini, padahal harga angkut kapal ini sangat murah yang biasa dipergunakan oleh pedagang toko kecil.

Sedangkan seperti pedagang distributor besar lebih banyak  menggunakan kapal kontainer karena kecepatan sampai barang yang dikirim hingga tujuan.

Lebih lanjut Sufrisman menjelaskan, biasanya setiap hari ada sekitar 2 hingga 3 kapal ini yang melakukan bongkar muat di Pelabuhan Martapura Bahari setelah itu biasanya mereka akan kembali berlayar ke tanah Jawa dengan waktu sekitar tiga hari 3 malam hingga sampai tujuan, dengan catatan kondisi gelombang stabil.

``Saat ini kita cukup kewalahan mengatur keluar masuk lalu lintas kapal kontainer sandar di Pelabuhan Petikemas Tri Sakti, karena saking banyaknya kapal yang akan bongkar muat, padahal infrastrukutr pelabuhan serta alat crane masih belum memadai,'' jelasnya.

Hasanuddin warga Bone asal Sulawesi Selatan Senin (8/3) menjelaskan, ada penurunan order pengiriman yang cukup siqnifikan seiring dengan masuknya kapal modern seperti kapal Kontainer serta kapal Roro yang setiap hari kian bertambah.

``Order kita banyak termakan kapal-kapal modern karena pelanggan ingin barangnya cepat tiba sampai tujuan, walaupun harga angkutan Kapal Pelra yang ditawarkan cukup murah,'' keluh bapak 3 putra ini.

Hal yang sama diungkapkan Siswanto asal Ampel Surabaya Senin (9/3), kiriman yang banyak hanya berupa barang kebutuhan dapur terbuat dari plastik, buah mangga, pupuk bersubsidi serta besi batuneser, asal Sulawesi dan Surabaya.

``Sudah banyak teman-teman yang tidak aktif berlayar dan lego jangkar kapal di Perak Surabaya serta Sulawesi dengan mengalihkan rute aktifitas angkutannya kedaerah lainnya,'' imbuh Siswanto.(hif/K-7)