Menurut Branch Manager Hotel Banjarmasin International (HBI) Ery Kadarisman pekan lalu kepada wartawan, bemunculannya hotel berbintang baru serta yang akan dibangun sejumlah pengusaha lokal di Banjarmasin sampai saat ini belum banyak pengaruhnya terhadap hunian atau akuvensi.
``Hingga saat ini memang belum ada pengaruhnya dengan semakin menjamurnya hotel di Kota Seribu Sungai ini, termasuk rencana tiga hotel berbintang milik pengusaha lokal,'' ucap Ketua Burung Walet Kota ini.
Disebutkan Ery, ia menyambut positif dengan semakin menjamurnya hotel berbintang hingga melati di Kota Banjarmasin sehingga para pelanggan memiliki banyak pilihan.
Namun, disisi lain Pemko juga harus terus memantau perkembangan perhotelan apakah sudah over dengan selalu memonitor tingkat akuvensinya, jadi dengan tidak mudah mengeluarkan perijinan hotel baru.
Bahkan, ujar Ery, ada perubahan tingkat hunian saat ini mereka tidak lagi menginap pada saat akhir pekan karena para tamu justru balik kedaerahnya pada saat akhir pekan.
``Perlu diketahui, pasar hotel di kota ini banyak dilakoni para pembisnis tentu saja jumlah tidak terlalu banyak jika dibanding dengan pasar yang menjual wisatanya,'' pungkasnya.
Hal yang sama diungkapkan, Ketua PHRI Kota Banjarmasin, Yuli Yana, dari data PHRI Kota sudah ada berdiri sebanyak 20 lebih hotel berbintang dan hotel melati di kota ini, data ini belum termasuk berapa jumlah hotel yang akan kembali dibangun Tahun 2011.
``Hingga saat ini akuvensi tingkat hunian hotel masih membaik khususnya di Rattan Inn setiap akhir pekan selalu full bokingan,'' ucap Yana sehari harinya sebagai Manager Marketing Rattan Inn.
Menurut Public Relation Swissbellhotel Borneo, Atri Mariati, memasuki bulan April 2010 tingkat hunian (akuvensi) mengalami peningkatan siqnifikan, bahkan Swissbellhotel sering kehabisan kamar.
``Bulan ini hunian di Swissbellhotel naik siqnifikan, ada beberapa corporate besar yang melakukan kegiatan besar misalnya Bank Mandiri, BTN, Coca Cola serta perusahaan lainnya, sehingga hunian naik hingga 90 persen lebih,'' pungkas Atri.
Ketika full bokingan kamar di Hotel Swissbellhotel, pihaknya dengan terpaksa merekomendasikan tamunya untuk berpindah ke hotel yang dianggap pas untuk tamunya, artinya kelas pelayanannya sama dengan Manajemen Swissbellhotel.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Tata Kota (DISTAKO) Banjarmasin, H Hamdi menjelaskan, ia sendiri mengaku bingung dengan semakin menjamurnya pertumbuhan perhotelan di Kota Banjarmasin.
``Padahal tempat kita ini tidak ada andalan untuk wisata karena Kota Banjarmasin termasuk kota perdagangan atau sebagai kota transit bisnis, bahkan walaupun hotel menjamur namun tingkat akuvensi hotel masih cukup tinggi menurut laporan BPS Kota,’’ katanya. (hif/K-7)

Tamu Hotel Kebanyakan Urusan Bisnis

