• Hari ini : Senin, 23 April 2018

Ekspor Kalsel Hingga Akhir Tahun Minus

HARGA BATU MEMBAIK - Disperindag Kalsel dari tahun ke tahun total ekspor Kalsel terus terjadi minus hingga 25 persen hingga tahun 2015 lalu dan tahun ini akan kembali minus walaupun harga batubara mulai membaik. (KP/Hifni)
HARGA BATU MEMBAIK – Disperindag Kalsel dari tahun ke tahun total ekspor Kalsel terus terjadi minus hingga 25 persen hingga tahun 2015 lalu dan tahun ini akan kembali minus walaupun harga batubara mulai membaik. (KP/Hifni)

Banjarmasin, KP – Selama lima tahgun berturut turut ekspor Kalsel bisa dikatakan mnus, walaupun akhir akhir ini harga batubara menunjukan harga yang menaik. Sektor batrubara ini mengusai ekspor Kalsel sekitar 80 persen, bila  komoditasini menurun maka otomatis ekspor juga menurun.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala Bidanmg petrdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) Kalsel H Gusti Yasni Iqbal, keopada awak media, Jumat (11/11).

Ia menyebut,  penurunan ekspor banua dimulai sejak 2013, 2014 hingga 2015 turun hingga minus 25 persen selain itu penurunan ini disokong oleh turunnya ekspor komuditi unggulan lainnya seperti minyak kepala sawit (CPO) hingga karet.

Dilihat dari perkembangan ekspor 5 tahun terakhir 2011 sampai 2015 dimana ekspor banua ini tumbuh positif rata-rata 7 persen per tahunnya, tetapi tahun 2016 diprediksi minus 8 persenan namun jika dibanding 2015 masih lebih baik tahun ini.

Dikatakan, beberapa bulan jelang tutup tahun ini harga baru bara jualnya mulai membaik terutama tujuan ke negara Tiongkok atau Cina 10 hingga 20 persenan karena akan memasuki musim dingin sehingga banyak memerlukan batubara untuk penghangat.

Krisis ekonomi global dan penurunan harga minyak dunia meskipun harga batubara mengalami kenaikkan namun naiknya tidak akan bertahan lama karena naiknya difrediksi tidak permanen.

Jika dilihat tinjauan sebaran negara tujuan negara tujuan ekspor banua dalam dasawarsa terakhir terjadi diversikasi negara tujuan yaitu peralihan negara tujuan utamanya dari negara eropa dan Amerika kita alihkan kenegara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, Korsel, Taiwan hingga Hongkong pangsa pasarnya hingga 55 persen.

Dengan pangsa pasar 20 persen hingga sisanya 25 persen merambah hampir 70 negara dalam rangka memasuki MEA dengan pangsa pasar sebesar 20 persen dimana cukup menandakan Kalsel siap bersaing.

Apalagi tahun 2017 nanti tidak akan lagi ekspor pertambangan bentuk mentah sesuai aturan atau regulasi  pemerintah sehingga ini akan dapat mendongkrak total ekspor banua nantinya, dengan harapan semelter yang ada didaerah mulut tambang sudah oprasional seperti di Kotabaru dan Tanah Bumbu contohnya.

“Bahkan, sepanjang tahun 2012 hingga 2016 ini, tidak ada satupun negara yang kebal terhadap krisis ini semuanya hampir terkena imbasnya, total kejayaan ekspor dari tahun ketahun pada tahun 2011 puncaknya sempat mencapai Rp600 juta dollar US tahun 2012 total ekspor Rp9 juta dollar US, tahun 2013  hanya mencapai Rp7,8 juta dollar US dan tahun 2014 hanya mencapai Rp7 miliar dollar US,” jelasnya panjang lebar.

Pihaknya juga terus akan melakukan terobosan baru seperti melakukan pasar-pasar international yang tidak dipengaruhi krisis Erofa dan Amerika seperti negara-negara Erofa Timur hingga negara-negara Afrika lainnya, walaupun sebagian negara pembeli utama sudah melakukan eksploitasi tambangnya sendiri. (hif/K-7)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua