• Hari ini : Rabu, 24 Januari 2018

Gubernur Buka Diskusi Solidaritas Jurnalis Banua

Gubernur Kalsel H Sahbiin Noor, saat membuka diskusi bareng hasil gelaran Solidaritas Jurnalis Banua, Komunitas Wartawan/LSM Warjog Kalsel.
Gubernur Kalsel H Sahbiin Noor, saat membuka diskusi bareng hasil gelaran Solidaritas Jurnalis Banua, Komunitas Wartawan/LSM Warjog Kalsel.

Banjarmasin, KP – Saadanya atau dalam bahasa Indonesia sekedarnya, itulah kesan yang ingin ditampilkan dalam Diskusi Bareng, Sabtu (1/10).

Betapa tidak, dalam diskusi bertemakan Kebebasan Pers dan Kapitalisasi Media ini, mengambil tempat warung yang sehari-hari digunakan untuk makan minum, yaitu Warung Jogja, di Jalan Keramaian.

Meski hanya Saadanya, namun yang membuka diskusi hasil gelaran Solidaritas Jurnalis Banua, Komunitas Wartawan/LSM Warjog Kalsel ini, dibuka secara langsung oleh Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor.

Orang nomor satu di Bumi Pangeran Antasari ini, menyempatkan hadir untuk membuka diskusi tersebut. Ia menyinggahi Warung Jogja, usai memimpin apel Hari Kesaktian Pancasila di Halaman Kantor Gubernur.

“Ini ide cerdas, tak melulu diskusi untuk kemajuan dilakukan di tempat mewah. Ini membawa warna tersendiri berdemokrasi,’’ kata.

Yang paling penting, ujar Sahbirin, diskusi berujung pada hasil yang membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya warga Banua.

“Esensi out putnya yang paling penting. Ini dapat menjadi contoh lain, termasuk jajaran Pemprov,’’ tambahnya.

Berbicara kebebasan pers dan kapitalisme media, Sahbirin menilai, di era saat ini kebebasan berinformasi dan mengutarakan pendapat, merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh UUD 1945.

“Pers adalah pilar ke empat demokrasi, negara besar seperti Amerika sangat terbantu dengan media untuk mengakses informasi mereka. Kita menghendaki khususnya di Kalsel demikian, peran pers sangat penting dalam kemajuan pembangunan,’’ ujarnya.

Pada diskusi tersebut, menghadir beberapa narasumber. Di antaranya Dosen Fisip ULM, Apriansyah dan Dosen Fisip Uniska Banjarmasin, DR Uhaib As’ad.

“Kebebasan pers sangat erat dengan kapitalisasi media,’’ ucap pria yang akrab disapa Apri itu.

Staff khusus Gubernur Kalsel itu menambahkan, menghadapi hantaman kapitalisme di tengah krisis ideologi sekarang, sudah bukan rahasia umum lagi, media menjadi alat kepentingan pemilik.

“Tak bisa dipungkiri, ada pemilik media juga sebagai pemilik perusahaan besar. Akhirnya, esensi media pun bertolak belakang,’’ kata Apri.

Sementara, Uhaib As’ad menyatakan, era demokrasi seperti sekarang, kapitalisasi media massa menjadi sesuatu yang tak asing lagi. Bahkan, ideologi media sudah mengalami pergeseran.

Di mana, dengan kondisi seperti ini, terangnya, seorang jurnalis sering dihadapkan pada posisi yang dilematis.

Di satu sisi, ingin mengedepankan idealismenya. Namun, di sisi lain juga harus memenuhi kebutuhan untuk hidup.

“Media saat ini, tak lebih menjadi alat dari kapitalis atau menjadi kuda dari kepentingan politiknya,’’ cecar Uhaib.

Digelarnya diskusi ini, sekaligus pula memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2016 kemarin, selain Sahbirin, hadir pula Kasi Penerangan Korem 101/Antasari, Mayor Iskandar, Danrammil Banjarmasin Timur, Mayor Inf Sudjiono dan sejumlah wartawan cetak/elektornik/online, LSM se-Banjarmasin, dan mahasiswa.

Koordinator kegiatan, Didi G Sanusi menambahkan, sengaja menggelar diskusi itu di warung. Sebab menurutnya, mawarung itu merupakan salah satu budaya Banjar.

“Budaya Banjar itu bukan di cafe atau restoratan tapi di warung. Makanya, kami sengaja melaksanakan ini di warung untuk menumbuhkan kembali Budaya Mawarung,’’ cetusnya. (mns/K-2)

Tag:,
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua