• Hari ini : Sabtu, 20 Januari 2018

Gubernur Tolak Gelar Kebangsawanan Kesultanan Banjar

MILAD KESULTANAN BANJAR
MILAD KESULTANAN BANJAR

BANJARMASIN, KP – Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor secara khusus menolak gelar yang hendak diberikan oleh Kesultanan Banjar.

Ia menolak pemberian pada saat Milad ke-512 Kesultanan Banjar yang dilaksanakan di Masjid Sultan Suriansyah Banjarmasin, Sabtu (22/10), lantaran sudah mempunyai gelar sendiri. Yaitu gelar yang sudah diberikan rakyat Kalsel berupa ”Paman”.

“Kalau saya ini sudah punya gelar sendiri, yakni “Paman”, jadi tidak perlu gelar lain,’’ kata pria yang akrap disapa Paman Birin ini.

Ia pun menambahkan, semuanya mesti menyadari bahwa kebudayaan dan adat menjadi bagian dalam mencetak karakter sebuah bangsa.

“Yang saya ketahui, negara-negara besar selalu didukung kebudayaan. Maka dari itu jangan pernah melupakan sejarah,’’ imbuhnya.

Sederhana namun khidmat. Itulah gambaran peringatan Milad ke-512 Kesultanan Banjar. Kegiatan Milad Kesultanan Banjar ini dimulai dengan pembacaan Surah Yasin, dilanjutkan dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran dan pembacaan doa oleh Ketua MUI Kalsel, KH Husin Nafarin.

“Di tempat inilah leluhur kita pada tahun 1526 Sultan Suriansyah, sultan pertama bersama 15 ribu warga di Islam kan oleh khatib Dayan, utusan dari Kerajaan Demak,’’ kata Sultan Banjar, Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’Thasim Billah.

Mantan Bupati Banjar dua periode ini mengatakan, sudah sepatutnya masyarakat bersyukur. Sebab, jika tidak di Islam kan, maka masih dalam agama nenek moyang, yakni Hindu.

Dalam kegiatan milad ini, Sultan Khairul Saleh juga menganugerahkan gelar kepada sejumlah tokoh di Banua.

Di antaranya Ketua PWI Kalsel, Faturrahman yang mendapat gelar Datu Puspawana Hikmadiraja, Ketua MUI Kalsel yang mendapat gelar Tuan Guru Besar, Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina yang mendapat gelar Datu Mangku Negeri.

Selain itu, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono juga menerima gelar Pangeran Harya Diraja. Sultan Khairul Saleh mengatakan, pemberian gelar bagi Hendropriyono sebagai pangeran tertinggi di Kerajaan Banjar ini karena dinilai sosoknya telah mendarmabaktikan diri kepada negara dan daerah Kalimantan.

Ia menambahkan, Hendropriyono merupakan karabat Kesultanan Banjar. Sebab dia merupakan keturunan Datuk Raden Tumenggung Soeria Koesuma Ronggo di Banjarmasin, yang merupakan pembesar pada zaman kerajaan Banjar dulunya.

“Kita berharap, beliau bisa membesarkan kesultanan ini, sebab kesultanan ini bertujuan diantaranya menjaga adat dan istiadat serta kebudayaan Banjar agar selalu lestari,’’ paparnya.

Usai penganugerahan, Pangeran AM Hendropriyono mengatakan, pemberian gelar ini merupakan titik awal untuk menggali kebudayaan sebagai manusia Indonesia.

Ia menambahkan, Indonesia dikenal sebagai bangsa beradab dan berbudaya yang menolak aksi kekerasan.

Melalui penguatan kebudayaan itulah, menurut Hendro, bangsa Indonesia bisa membumikan nilai-nilai moral Pancasila.

Ia pun berpesan, agar warga Banjarmasin memiliki semangat maju dengan mengusung jati diri budaya sendiri.

“Jangan terombang-ambing. Jangan jadi ekor, tapi harus jadi kepala,’’ tegasnya.

Oleh karena itu, dirinya pun mengusulkan para kepala daerah di Kalsel, juga menerima gelar pangeran. Hal ini, demi menyesuaikan nilai budaya dan sistem pemerintahan modern.

“Gubernur, bupati, dan wali kota seharusnya dapat gelar juga. Kita harus konsisten, satukan sistem pemerintahan dan kultur Banjar,’’ paparnya. (mns/K-2)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua