• Hari ini : Kamis, 18 Januari 2018

Harga Batubara Naik 23 Persen

Ekspor Batubara Keluar Negeri
Ekspor Batubara Keluar Negeri

Jakarta, KP – Harga batubara mulai berangsur membaik pada bulan ini. Kementerian ESDM menetapkan, Harga Batubara Acuan (HBA) pada November 2016, sebesar US$ 84,89 per ton. Harga tersebut naik 23 persen, dibandingkan pada Oktober 2016 sebesar US$ 69,07 per ton.

Berkat kenaikan harga batubara ini, Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot Aryono, optimistis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari batubara bisa naik dan mencapai target sebesar Rp30,1 triliun hingga akhir tahun ini.

“Penerimaan negara naik. Kemarin kan turun karena harga jatuh. Target Rp30 triliun karena perhitungan tarif batubara naik,’’ kata Bambang, saat ditemui di Tempo Scan Tower, Jakarta, Senin.

Bambang juga optimistis, target produksi batubara sebesar 400 juta ton di 2016 ini tercapai.

“Mudah-mudahan sampai, sekitar 400 juta ton,’’ harapnya.

Namun, belum dapat dipastikan, apakah kenaikan harga batubara akan terus berlanjut atau hanya terjadi sesaat saja.

Kenaikan harga terjadi, karena pengurangan jam kerja dan penutupan tambang-tambang batubara di China.

Kalau kebijakan itu tidak dilanjutkan oleh pemerintah China, tentu harga batubara akan kembali turun.

HBA sendiri dihitung berdasarkan rata-rata 4 indeks harga batubara yang umum digunakan dalam perdagangan, yaitu Indonesia Coal Index, Platts59 Index, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index.

HBA pada November 2016 ini, tercatat sebagai harga tertinggi sejak Mei 2013, yang saat itu ditetapkan sebesar US$ 85,33 per ton.

Batubara Kalori Tinggi Naik

Sementara itu, harga batubara ekspor kalori enam, asal Kalimantan Selatan (Kalsel), sejak tiga bulan terakhir naik antara 15 hingga 20 persen, yaitu dari sekitar 60 dolar AS kini menjadi 90 dolar As per ton.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalsel, Gusti Yasni Iqbal, di Banjarmasin mengatakan, kenaikan harga batubara kalori tinggi terutama untuk eskpor ke Turki tersebut, diharapkan akan mendorong kenaikan volume ekspor batubara.

Selain itu, kenaikan harga batubara, diharapkan juga akan kembali menggeliatkan industri batubara yang sejak beberapa tahun terakhir banyak tutup.

“Kenaikan harga batubara ekspor ini, saya harapkan akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Kalsel, yang kini 3,9 persen menjadi empat persen lebih,’’ katanya.

Kenaikan harga batubara ini, tambah dia, juga mendorong kenaikan volume ekspor di Kalsel, hingga 20 persen yang kini mencapai 10 juta ton lebih per bulan atau 130 juta ton per tahun, dengan nilai ekspor rata rata perbulan 500 juta dolar AS.

Hanya saja, tambah Gusti, kenaikan harga batubara ini, belum dirasakan secara maksimal oleh Kalsel, karena sebagian besar kalori batubara di daerah ini di bawah kalori enam.

Menurut dia, kendati terjadi kenaikan, harga batubara kalori rendah masih di bawah 50 dolar AS per ton, yaitu kisaran 30-40 dolar AS per ton.

“Terjadi perbedaan harga yang sangat signifikan antara batubara kalori tinggi dan rendah, karena untuk mendapatkan batubara kalori tinggi diperlukan waktu hingga puluhan, bahkan ratusan tahun lamanya,’’ katanya.

Selain batubara, harga komoditas ekspor lainnya, baik itu CPO, sektor perikanan, industri kayu dan lainnya, juga mengalami kenaikan cukup signifikan.

Hanya saja, karena selama ini tumpuan utama ekspor Kalsel masih batubara, kenaikan ekspor komoditas lainnya, tidak terlalu berpengaruh besar terhadap nilai ekspor Kalsel.

Namun demikian, kata dia, mulai membaiknya harga komoditas ekspor tersebut, akan segera memulihkan kondisi perekonomian di Kalsel, seperti belum krisis.

Sejak harga batubara anjlok, pertumbuhan ekonomi Kalsel, yang awalnya berada di peringkat tujuh nasional, anjlok menjadi peringkat 27 nasional, kondisi tersebut memicu bertambahnya tingkat kemiskinan dan pengangguran di provinsi ini. (net/K-2)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua