• Hari ini : Rabu, 17 Oktober 2018

Hati-hati! Kebakaran Lahan di Kotim Potensi Tinggi

SAMPIT, KP – Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, diingatkan mewaspadai kebakaran hutan dan lahan karena potensinya saat ini lebih tinggi dibanding tahun 2017 lalu.

“Tahun ini kemaraunya lebih kering atau hujannya lebih sedikit dibanding tahun 2017. Jadi, meski lebih singkat tapi potensi kebakaran lahan lebih tinggi,’’ kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun H Asan Sampit, Nur Setiawan di Sampit, Kamis.

Berdasarkan data, kabupaten ini sudah memasuki kemarau pada dasarian II Juli atau 10 Juli lalu. Tidak heran sudah lebih dari sepekan terakhir hujan tidak mengguyur wilayah ini.

Kebakaran lahan juga mulai marak terjadi di kawasan dalam Kota Sampit, serta kecamatan luar kota. Perlu kewaspadaan semua pihak agar kebakaran hutan dan lahan tidak bertambah parah.

Sebaran tanah gambut yang cukup luas membuat tingkat kerawanan kebakaran lahan di daerah ini cukup tinggi. Gambut sangat mudah kering dan terbakar saat kemarau, padahal sulit dipadamkan karena api terus membakar ke dalam tanah, meski di permukaan sudah padam.

Tahun lalu musim kemarau terjadi mulai Juni hingga Agustus. Tahun ini kemarau diperkirakan terjadi hingga akhir Agustus atau awal September.

“Walaupun kemaraunya lebih singkat, tapi lebih kering dibanding 2017. Tapi tidak sampai separah kemarau 2015 lalu. Meski begitu, tetap saja kita harus waspada agar kebakaran lahan dan kabut asap tidak sampai terjadi,’’ kata Nur Setiawan.

Berdasarkan pantauan satelit pada Kamis pagi, terdapat satu titik panas di Kotawaringin Timur. Nur Setiawan memuji kesigapan Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan yang selalu cepat menanggulangi jika terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur sudah menetapkan daerah mereka dalam kondisi status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan karena kebakaran lahan makin meningkat.

Penetapan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan itu merupakan hasil rapat Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan pada Senin (16/7). Status ini ditetapkan selama empat bulan hingga 18 November 2018 nanti.

Pemerintah daerah juga membentuk kelompok Masyarakat Peduli Api di 17 kecamatan yang ada di kabupaten ini. Dengan begitu kebakaran hutan dan lahan di seluruh desa bisa terpantau dan dikendalikan. (net)

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua