• Hari ini : Sabtu, 21 Juli 2018

Internalisasi Nilai Agama Dalam Kehidupan

PUKUL GONG – Dilakukan Bupati Tabalong tanda kegiatan resmi dibuka.
PUKUL GONG – Dilakukan Bupati Tabalong tanda kegiatan resmi dibuka.

Tanjung, KP – Dalam perwujudan visi misi dawerah yang agamis tentu tidak hanya agama Islam, tapi juga agama-agama lain yang ada di Kabupaten Tabalong memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang dianutnya, diantaranya dengan adanya internalisasi nilai-nilai agama kedalam kehidupan masyarakat.

Hal itu, diungkapkan Bupati Tabalong Drs H Anang Syakhfiani M.Si, saat memberikan sambutan sekaligus membukan kegiatan Seminar dan Kebaktian Kebangunan/Kebangkitan Rohani (KKR) Pendeta Gereja Pantekosta Se-Kalimantan Selatan belum lama tadi di Gedung Sarabakawa Tanjung
Menurut Anang, perwujudan visi misi masyarakat yang agamis tentunya ibi tidak terkecuali umat kristiani yang ada Kabupaten Tabalong,

“Tidak hanya agama Islam, tapi juga agama-agama lain yang ada di Kabupaten Tabalong ini memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan melaksanakan peribadatan sesuai keyakinan yang dianutnya. Tidak terkecuali umat kristiani yang ada di daerah yang kita cintai ini.di daerah yang kita cintai ini,” ujarnya.

“Karena, agamis yang dimaksudkan didalam RPJMD tersebut mengandung 4 (empat) pengertian yang sangat mendasar, yaitu terwujudnya, Internalisasi nilai-nilai agama kedalam kehidupan masyarakat, Internalisasi nilai-nilai agama dilingkungan aparatur Negara, Tidak adanya konflik antar agama, dan menurunnya tingkat Penyakit Masyarakat (Pekat),” sebut Anang.

Terkait acara hari itu, Anang mengungkapkan, atas nama Pemerintah Kabupaten Tabalong, menyambut baik dilaksanakannya seminar dan KKR ini, berharap kegiatan keagamaan ini berjalan lancar sesuai dengan harapan kita semua.

“Saya yakin, umat kristiani di Kabupaten Tabalong ini sependapat dengan saya, bahwa agama-agama yang ada di manapun di tanah air kita, bahkan di dunia, semuanya mengajarkan kebaikan, kebenaran, kedamaian dan upaya-upaya untuk mewujudkan kesejahteraan lahir maupun bathin,” ujarnya.

“Oleh karena itu, melalui seminar dan KKR Pendeta Gereja-gereja Pantekosta di Indonesia di Kalimantan Selatan ini, lebih khusus lagi yang di Kabupaten Tabalong, saya berharap dapat menjadi daya dorong bagi terwujudnya empat pengertian mendasar sebagaimana saya sebutkan diatas,” sebut Anang.

Selaku kepala daerah maupun pribadi, lanjut Anang tidak akan pernah mencampuri urusan peribadatan. Silahkan para pemuka agama melaksanakan ibadah sesuai keyakinan.

Dan, untuk urusan ketenteraman, ketertiban, kerukunan dan toleransi mari wujudkan secara bersama-sama agar Kabupaten Tabalong yang agamis ini tetap dalam suasana kondusif sehingga memungkinkan bagi Pemerintah Daerah untuk terus melaksanakan pembangunan dengan baik sesuai dengan visi dan misi yang telah ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah.

“Secara umum, Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang diselenggarakan oleh Gereja-gereja di Indonesia memiliki persamaan yang khas. Yaitu, rangkian ibadah ini biasanya diselenggarakan dengan kapasitas jumlah jemaat yang lebih besar dari ibadah biasa, dengan persiapan-persiapan yang lebih kompleks,” ujarnya.

“Jemaat pun pada umumnya didorong untuk berpartisipasi mengajak keluarga, sanak saudara, maupun rekan-rekannya yang mungkin mengalami kemunduran rohani. Oleh karena itu tepatlah apabila seminar dan KKR ini difokuskan pada upaya-upaya peningkatan mutu dan kualitas pelayanan dalam pembinaan kerohanian dan pembinaan kerukunan antar umat beragama. Pembinaan kerohanian dan pembinaan kerukunan antar umat beragama menjadi titik paling penting dan krusial. Karenanya melalui kegiatan ini saya harapkan keduanya benar-benar mendapat porsi yang memadai dalam proses pembinaan umat,” demikian pungkas Bupati Tabalong  H Anang Sykahfiani.

Utusan Majelis Pusat Gereja Indonesia Pdt Frangky Rewa mengungkapkan salut dengan Pemkab Tabalong, “salut untuk Bupati Tabalong yang mana beliau kondisi basah (karena hujan. Red) habis dari kebun rakyat (untuk rakyat) ini menunjukan bahwa beliau seorang pekerja keras,” sebutnya.

“Bagaimana daerah bisa maju mental kerohanian, jika pembawa/pejuang agamanya tidak memiliki jiwa entelektual yang tinggi, maka kegiatan ini sekaligus untuk menjadikan mental rohaniawan pejuang agama bisa meningkat,” sebut Pdt Frangky Rewa. (ros/K-6)

Tag:,
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua