• Hari ini : Rabu, 15 Agustus 2018

“Jangan Sebatas Mengutuk, Wujudkan Ketahanan Ideologi’’

H Maulana

Banjarmasin, KP – Berbagai aksi teror yang terjadi di tanah air belakangan ini, membuat semua pihak prihatin. Namun, bukan hanya sekedar itu, tapi harus diwujudkan dalam konkret ketahanan idiologi.

“Sikapi berbagai aksi itu, pemerintah daerah khususnya di Kalimantan Selatan (Kalsel) jangan `merem’ terutama dalam wujudkan secara nyata konkret ketahanan dan pemahaman makna Pancasila sebagai ideologi Nasional pada semua lapisan masyarakat dan terpenting dari sejak dini terhadap anak-anak sekolah.

Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi cita-cita normatif penyelenggaraan bernegara,’’ kata H Maulana, salah satu tokoh masyakakat di Alalak, yang ketua LSM Kebal ini, kepada awak media, menanggapi soal itu, Rabu (16/5).

Menurutnya, kalau sekedar mengutuk atau prihatin, pasti semua termasuk dirinya turut mengutuk dan sedih mendalam melihat gambaran apa yang terjadi tersebut.

Ada reaksi semua elemen itu baguslah sebagai rasa nasional.

Kita dukung kepolisian dalam tindakan tegas terhadap terorisme, dan harus dilakukan seperti itu.

Tapi yang lebih mendasar bagaimana menangkal agar bibit-bibitnya kelak tidak melakukan hal sama,’’ paparnya.

Jelasnya, yang perlu dipertanyakan bagaimana kelanjutan dalam menangkal terosisme dan radikalisme ini untuk kedepannya.

Disinilah, perlu adanya langkah konkret pemerintah daerah, baik itu gubernur, walikota atau bupati

mengelola dalam konsep, baik itu pada program strategi banua atau lainnya yang komprehensif untuk cegah dan tanggulangi terorisme dan radikalisme.

Teror itu-kan reaksi saja, karena pelaku anggap diologi-nya saja yang paling benar,’’ ujarnya.

Padahal sebenarnya Ideologi Pancasila, merupakan tatanan nilai yang digali (kristalisasi) dari nilai-nilai dasar budaya bangsa Indonesia.

Kelima sila merupakan kesatuan yang bulat dan utuh sehingga pemahaman dan pengamalannya harus mencakup semua nilai yang terkandung didalamnya.

Ketahanan ideologi diartikan sebagai kondisi dinamik kehidupan ideologi bangsa Indonesia yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan serta gangguan yang dari luar/dalam, langsung/tidak langsung dalam rangka menjamin kelangsungan kehidupan ideologi bangsa dan negara Indonesia.

Untuk mewujudkannya lanjut H Maulana yang juga dikenal pengusaha di Banjarmasin ini, diperlukan kondisi mental bangsa yang berlandaskan keyakinan akan kebenaran ideologi Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara serta pengamalannya yang konsisten dan berlanjut.

Untuk memperkuat ketahanan ideologi perlu langkah pembinaan sebagai berikut, pengamalan Pancasila secara obyektif dan subyektif.

Pancasila sebagai ideologi terbuka perlu direlevansikan dan diaktualisasikan agar mampu membimbing dan mengarahkan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

Bhineka Tunggal Ika dan Wasantara terus dikembangkan dan ditanamkan dalam masyarakat yang majemuk sebagai upaya untuk menjaga persatuan bangsa dan kesatuan wilayah.

Contoh para pemimpin penyelenggara negara dan pemimpin tokoh masyarakat merupakan hal yang sangat mendasar.

Pembangunan seimbang antara fisik material dan mental spiritual untuk menghindari tumbuhnya materialisme dan sekularisme

Pendidikan moral Pancasila ditanamkan pada anak didik dengan cara mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain.

Diketahui insiden dimulai rusuh narapidana terorisme, sejak Selasa (8/5) malam lalu di Rutan Cabang Salemba di Mako Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat Rentetan bom meledak di tiga tempat ibadah di Surabaya disusul ledakan di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo, Minggu (13/5).

Senin (14/5) pagi, serangan bom terjadi di markas Polrestabes Surabaya dan terakhir di Polda Riau.

Soal di Mako Brimob lanjut H Imau, panggilan akrab H Maulana ini mengatakan pula, apakah ada perangkat hukumnya untuk mengusut soal kelebihan penguni tahanan.

Apakah pembiaran yang kapasitan 60, malah dissi 150 dan malah disebut dari pemberitaan,puluhan ada sudah vonis harusnya d lembaga pemasyarakatan, ini masih dalam tahanan itu.

Kemudian aksi di Surabaya, dirinya merasa sedih dan intinya mendukung kepolsian dalam bentuk apapun selama ini upaya mengatasi aksi terorisme dan tinggal langkah konkret pemeritah di masing-masing daerah sikapinya.

Kalau sampai `merem’ ini akan menjadi `pupuk’ untuk menjadikan tumbuh kejahatan baru.

“Kita perangi terorisme –radikalisme, termasuk koruptor yang mungkin jadi tujuan pelaku teror

Idologi pancasila dan Undanag-Undang 45, ini harga mati,’’ ucap H Imau.

Pada bagian lain ia juga berharap pemmerintah daerah untuk melakukan survei berapa banyak di banua ini tahu apa itu pancasila dan jika banyak lupa, maka harus bersikap nyata lagi.

“Saya salut terhadap statemen Kapolri bahwa kosongnya idiologi, ini tidak bisa dilawan dengan peluru, tapi dengan idiologi pula,’’ ujarnya.

Ideologi katanya adalah suatu sistem nilai yang merupakan kebulatan ajaran yang memberikan motivasi. (K-2)

 

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua