• Hari ini : Sabtu, 20 Januari 2018

Kadivre Bulog Kalsel Ditegur Menteri

Foto Ilustrasi. (net)
Foto Ilustrasi. (net)

BANJARMASIN, KP – Hasil pertanian di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) boleh melimpah ruah. Bahkan, Kalsel menjadi pemasok bagi provinsi lain seperti Kaltim dan Kaltara. Pun halnya di tingkat nasional, Kalsel menjadi pemasok utama beras.

Namun, Beras Masyarakat Sejahtera (Rastra) justru dipasok dari luar daerah. Pengadaan beras Rastra dipasok dari Sulsel dengan alasan harga lebih murah. Sontak, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, heran hingga geleng geleng kepala dan menyebutkan ada yang tidak beres di dalam pengelolaan beras di Banua ini. Ia pun mengingatkan secara keras atau menegur Kadivre Bulog Kalsel, Alwi Umri.

“Hal seperti ini sudah tidak benar. Kalau surplus beras masak masih harus mendatangkan dari luar. Ini sudah tidak benar. Tolong pak dirjen dan Bulog bahwa ini pola pikir yang keliru dan harus kita luruskan,’’ tegas Andi Amran Sulaiman, di acara Rakor Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai (Pajale) Kalsel, di aula Korem 101 Antasari, Rabu (3/8).

Ia mengatakan, jika masalah harga mahal bisa disiasati, karena warga bisa beli gabah dan menggiling sendiri. Oleh karena itu, Menteri Pertanian mendesak, agar Kalsel segera menghentikan pasokan beras dari Sulawesi Selatan yang digunakan dalam program Beras Sejahtera. “Paling lambat tahun depan (2017,red) seluruh daerah di provinsi ini tidak lagi memasok beras untuk masyarakat sejahtera (Rastra) dari luar daerah,’’ tegasnya mengulang.

Ia memaparkan, biaya untuk mendatangkan beras ke Banua tidaklah sedikit, di mana mencapai puluhan miliar. “Itu uang rakyat yang dipakai. Lebih baik kita pakai untuk dikelola sendiri,’’ papar Amran.

Ia pun mengkalkulasi, di mana jika dihitung biaya pengiriman melalui jalur udara justru akan menghabiskan dana cukup besar yang dibebankan pada pemerintah. Padahal, kata dia, produksi beras di Banua mengalami surplus  yang sangat mencukupi bagi kebutuhan masyarakat, bahkan untuk dipasok ke daerah lain.

Tidak hanya sampai di situ, Amran pun menargetkan, untuk ke depan ada kenaikan produksi beras. Hal ini, paparnya, bisa dilakukan dengan indeks tanam yang biasanya sekali menjadi dua kali tanam setahun. Apabila rencana ini bisa dilakukan, Amran meyakini, bisa menekan harga beras, angka inflasi rendah, dan menyetop pembelian beras dari luar provinsi.

“Mekanisasi pertanian dan perbaikan infrastruktur pengairan juga penting kita lakukan. Sebab, Jawa sudah panen tiga kali setahun dan Sulsel tiga kali setahun,’’ paparnya. Sementara itu, Wakil Gubernur Kalsel, H Rudy Resnawan menjelaskan, di Kalsel sektor pertanian merupakan kontributor penting dalam perekonomian, dan menjadi penyumbang utama dalam pembentukan PDRB, penyedia kebutuhan pangan, bahan baku industri, pengentasan kemiskinan, penyedia lapangan kerja dan sekaligus peningkatan pendapatan masyarakat di Kalsel.

“Oleh karena itu, sektor pertanian sudah selayaknya mendapat perhatian yang lebih maksimal dan dilakukan dengan perencanaan yang matang,’’ tandasnya. (mns/K-2)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua