Kalimantan Post - Koran Asli Banua

Update Terakhir :08:29:53 AM GMT

Headlines:
>> KALTENG Palangkaraya Pendidikan Masih Mengalami Kesenjangan

Pendidikan Masih Mengalami Kesenjangan

E-mail Cetak PDF

Anggaran pendidikan lebih banyak diserap di perkotaan, termasuk fasilitas dan tenaga guru lebih lengkap ketimbang di daerah pedalaman yang minim fasilitas.

PALANGKA RAYA, KP - Kesenjangan kebijakan pendidikan antara kota dan pedalaman di Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menga­nga lebar. Ratusan anak di pe­dalaman tidak mendapatkan manfaat dari anggaran besar pendidikan yang digelontorkan pemerintah, yang besarnya mencapai 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Anggaran pendidikan lebih banyak diserap di perkotaan, termasuk fasilitas dan tenaga gu­ru lebih lengkap ketimbang di daerah pedalaman yang mi­nim fasilitas.
``Akibatnya, pendidikan men­jadi barang langka bagi anak-anak pedalaman,’’ tandas Koordinator Lapangan Kesa­tuan Aksi Mahasiswa Muslim In­donesia (KAMMI) Kalteng dan Himpunan Mahasiswa (HIMA) Lamandau Sikin M Noor, saat berunjuk rasa memperingati Ha­ri Pendidikan Nasional (Hardiknas), belum lama tadi.
Tudingan KAMMI dan HIMA bukan mengada-ada. Saat ini, misalnya, ratusan siswa di SDN Buhut Jaya I di Desa Buhut Jaya, Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas tidak men­dapat pelajaran yang cukup ka­rena kekurangan guru dan ruangan.
Kondisi serupa juga terjadi di Ke­camatan Suling Tambun, Ka­bu­paten Seruyan. Sekolah dasar dan menengah di kecamatan ter­se­but saat ini kekurangan guru dan ruang kelas. Bahkan SMPN 2 Tumbang Langkai hanya memiliki satu guru. Di Kobar, banyak gedung sekolah rusak.
Di sisi lain, puluhan rumah di­nas untuk guru-guru di pedalaman juga kondisinya memprihatinkan. Banyak rumah dinas guru yang telah lapuk dan reot, seperti yang terlihat di Pulang Pisau dan Barito.
Karena itu, KAMMI dan HIMA menilai masalah kesen­ja­ngan pendidikan seperti mahalnya biaya sekolah, penyelewengan dana BOS dan pelaksanaan ujian nasional yang masih menjadi momok harus segera sikapi. ``Belum tuntasnya persoalan itu pula, KAMMI dan HIMA menyebut mo­men Hardik­nas sebagai ‘Hari Berkabung Pendidikan Na­sional’,’’ jelas Asikin.
Dalam aksinya, KAMMI dan HIMA menuntut pe­merintah menggratiskan biaya pendidikan secara merata kepada masyarakat, be­gitu juga dalam hal anggaran. ``Anggaran pendidikan me­mang sudah 20 persen sesuai ama­nat undang-undang, tapi peng­gunaannnya lebih besar untuk gaji guru ketimbang pening­katan mutu.’’

Terkendala infrastruktur
Di tempat terpisah, seusai memimpin upacara Hardiknas, Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, mengakui pembangunan di bidang pendidikan masih terkendala infrastruktur penunjang, seperti tenaga guru, khususnya di pedalaman, mengingat sebaran guru lebih banyak di kota.
Menurut dia, pihaknya, telah membantu pemerintah pusat melalui program Kalteng Harati (Cerdas) untuk mempercepat pembangunan di bidang pendi­di­kan. Sayangnya program yang dicanangkan sejak 2010 ter­sebut belum menyentuh seca­ra spesifik kepada masyarakat hingga 2011 ini.
Meski begitu, dia, berjanji pada 2011 program Kalteng Ha­rati terus akan optimalkan, baik itu soal kesejahteraan guru, kualitas pendidikan maupun anggaran. Seperti diketahui, Pemerintah Kalteng pada 2011 mengalokasikan sebesar Rp162,9 miliar untuk program Kalteng Harati.
Sementara itu, di Kobar, Hardiknas diperi­ngati dengan pemberian bantuan kepada pelajar berprestasi.