Kalau ini terus dibiarkan, maka Pancasila sebagai dasar Negara, bagaikan bangunan yang dibangun di atas pasir, sehingga mudah runtuh. Sehingga apapun yang dibangun dan diperbuat akan menjadi percuma.
PALANGKA RAYA, KP - Menyedihkan karena ternyata hasil survey beberapa waktu lalu 80 persen mahasiswa Indonesia saat ini tidak suka lagi pada Pancasila, itulah ungkapan salah satu penerima anugerah Pemimpin Pancasila, Denni Tewu, Sabtu (11/6).
Dalam sambutannya Denni Tewu pada setelah menerima Piala Anugerah Pemimpin Pancasila, menyatakan Pancasila saat ini ramai dibicarakan orang, terutama kalangan pemimpin, pejabat, dan politisi untuk saling memberikan masukan dan evaluasi sebe rapa jauh Pancasila tersebut dijadikan sebagai dasar dalam pelaksanaan tugas dan kewajibannya sehari-hari.
Denni menilai Pancasila dengan lima sila yang terkandung didalamnya merupakan ‘’hukum kasih’’ yang sejati. Namun disayangkan penghayatan dan pengamalamnya mengalami penurunan yang sangat luar biasa tajam, bahkan hasil sebuah survey menun-jukkan hampir 80 persen mahasiwa tidak suka lagi dengan Pancasila.
Kalau ini terus dibiarkan, maka Pancasila sebagai dasar Negara, bagaikan bangunan yang dibangun di atas pasir, sehingga mudah runtuh. Sehingga apapun yang dibangun dan diperbuat akan menjadi percuma, tegasnya.
Ia juga menegaskan, Pancasila ibarat batu karang yang teguh, seraya mengajak pemimpin bangsa untuk membangun diatas dasar batu karang ytang teguh, yakni Pancasila sebagai dasar membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, agar pembangunan tidak percuma.
Sementara itu sebelumnya Sri Sultan HKB X mengungkapkan sisi lain tidak dipraktek-kannya Pancasila dalam penerapan bidang ekonomi, disebutkan ketergantungan dengan asing sangat kental sebagai contoh 66 tahun lebih pengeboran minyak masih tetap dilakukan oleh pihak asing.
Demikian pula bidang otomotif lebih dari 40 tahun mendapat kepercayaan dari Jepang, hingga saat ini tidak bisa membuat dan memproduksi sendiri mobilnya.
Apresiasi dan sambutan dari penerima anugrah Pemimpin Pancasila juga disampaikan sejumlah tokoh lainnya yang hadir pada acara yang digelar di Tugu Soekarno yang dihadiri langsung Gubernur Kalteng A Teras Narang SH dan Wagub Ir A Diran, seperti dari Gayus Luumbun yang menyatakan anugrah tersebut menjadi beban tersendiri, karena sebagai pemipin Pancasila harus mampu menyelesaikan berbagai persoalan ditengah masyarakat Indonesia yang sangat pluralisme.
Sementara itu politisi termuda penerima anugrah tersebut Muruar Sirait mengakui bangsa ini sangat majemuk, dan luar biasa indahnya ditengah keberagaman, dan menyaksikan secara nyatamasyarakatnya masih menghormati perbedaan, sehingga saat kampanye ia sendiri yang non muslim, bisa berkampanye masuk pesantren dan terpilih menjadi wakil rakyat di Senayan.
Muaruar Sirait menyatakan ia bertekad menjadi wakil rakyat yang tidak korup, seraya menyerukan dengan situasi dan kondisi seperti ini Pemerintah tidak cukup hanya menun tut, namun harus berbuat, sehingga Indonesia tidak perlu reformasi, dan tidak cukup diurus biasa-biasa saja tetapi benar-benar ditangani secara serius.
Ketua Ormas DPP Merah Putih ini menyatakan, sudah saatnya agar Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar, tidak hanya menghargai, memperlajari sejarah, tetapi harus mampu membuat sejarah yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang.



