Demo nantinya akan melibatkan sekitar tiga ribu sopir angkutan dan hingga saat ini sudah ada 1.230 orang sopir yang mendaftar dan menyatakan kesediaannya ikut demonstrasi.
SAMPIT, KP - Ratusan pengusaha jasa angkutan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mendukung rencana demonstrasi kelangkaan bahan bakar minyak yang akan digelar pada, Senin (30/5).
``Demo nantinya akan melibatkan sekitar tiga ribu sopir angkutan dan hingga saat ini sudah ada 1.230 orang sopir yang mendaftar dan menyatakan kesediaannya ikut demonstrasi,’’ kata Koordinator demonstrasi Audy Valend, di Sampit, Kamis.
Aksi demonstrasi yang akan diikuti oleh ribuan sopir truk dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) itu diberi nama Aksi Juang Bersama dan saat ini telah mendapatkan izin dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Kotawaringin Timur.
Rencana demo itu mendapat tanggapan yang baik dari berbagai pihak khususnya para sopir dan pada umumnya mereka datang sendiri untuk mendaftarkan diri ikut dalam aksi solidaritas tersebut.
Menurut Audy, ada tiga hal yang akan menjadi tuntutan dalam demo nanti, yakni menuntut pemerintah daerah termasuk aparat penegak hukum untuk segera turun ke lapangan mengatasi kelangkaan BBM.
Tuntutan kedua, meminta kuota BBM yang diberikan Pertamina untuk ditinjau ulang dan yang ketiga dalam mengaktifkan kembali tim pengawas pendistribusian BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Rencana demo itu mendapat dukungan penuh dari pengusaha jasa angkutan dan mereka juga akan turut berpartisipasi dalam aksi demo itu meski pun tidak secara langsung.
Para pengusaha tersebut akan mendukung para sopir dan LSM yang akan turun demo degan harapan aksi tersebut akan berhasil sesuai dengan keinginan para sopir yang sudah jenuh dengan keadaan krisis solar sekarang ini.
``Kesabaran para sopir sudah berada diatas titik puncak, mungkin demikian pula dengan masyarakat Kotawaringin Timur lainnya terutamanya lagi masyarakat yang kebetulan tinggal di sekitar lingkungan SPBU,’’ katanya.
Kelangkaan solar yang hampir empat tahun terjadi tidak hanya merugikan para pengusaha jasa dan sopir saja, tapi juga telah merugikan masyarakat yang tinggal di sekitar SPBU karena setiap hari rumah mereka tertutup oleh antrean.
Para sopir dan masyarakat menginginkan adanya perbaikan dalam hal pendistribusian minyak solar dan agar dilakukannya pengawasan yang ketat, serta yang terpenting lagi yaitu adanya tindakan yang tegas dari aparat hukum terhadap pihak-pihak yang menjadi penyebab terjadinya krisis solar di Kotawaringin Timur.
Berdasarkan data yang dimilikinya, setiap bulannya Pertamina mengaku telah menyalurkan solar sebanyak 4.500 kilo liter BBM bersubsidi atau sebanyak 150 kilo liter untuk jatah kebutuhan transportasi umum setiap harinya. Jumlah itu bahkan diakui Pertamina sudah melebihi 19 persen dari kuota yang sebenarnya.
Dengan kuota BBM 150 kilo liter solar per hari tersebut, seharusnya di Kotawaringin Timur tidak ada lagi antrean minyak di SPBU sebab dengan jumlah sebanyak itu jika dibagikan misalnya 80 liter untuk setiap kendaraan berarti jumlah kendaraan yang kebagian ada sebanyak 1.875 buah.
Sementara jumlah total kendaraan yang setiap hari antri di SPBU rasanya tidak pernah mencapai seribu buah per harinya.
``Ini adalah fakta yang terjadi, tapi kenapa di Kotawaringin Timur mengalami krisis yang terus berkepanjangan. Siapa yang bertanggung jawab dengan semua ini, itulah yang akan kami tuntut pada saat aksi demo nanti,’’ ungkapnya.



