Kalimantan Post - Koran Asli Banua

Update Terakhir :08:29:53 AM GMT

Headlines:
>> KALTENG Sampit Petani Rotan Minta Jaminan Harga

Petani Rotan Minta Jaminan Harga

E-mail Cetak PDF

Kasongan, KP - Sejumlah petani rotan di wilayah Kabupaten Katingan meminta jaminan harga kepada pemerintah setempat, pasalnya, selama ini harga rotan tidak menentu. Bahkan petani rotan mengaku sering dipermainkan tengkulak soal harga rotan ini.
Sejumlah warga Desa Talingke Kecamatan Tasik Payawan saat berada di Kasongan, Senin (16/5) kemarin menuturkan jika selama ini harga rotan tidak menentu. Pasalnya, harga rotan ini sering dipatok oleh pengumpul dibawah standar. ``Sekarang harga rotan jenis sigi dihargai Rp115 ribu/pikulnya (per 100 kg), sedangkan untuk jenis irit Rp90 ribu, padahal kalau harga normal bisa mencapai Rp150 ribu/pikulnya untuk jenis rotan sigi, dan Rp140 untuk rotan irit,’’ ujar Bapak Toni, salah seorang warga Talingke.
Menurutnya, saat ini banyak warga untuk sementara berhenti memotong rotan karena harganya anjlok. ``Rotan ini memang merupakan mata pencaharian sebagian besar warga Desa Talingke, tetapi sekarang harganya murah, sehingga banyak warga yang kesulitan usaha,’’ tuturnya.
Guna mencukupi kebutuhannya, bapak 4 anak ini mengaku mencari ikan di sungai setempat, tetapi hasil tangkapan ikan juga menurun. ``Untuk itu kami berharap agar harga rotan tidak turun naik, maka pemerintah bisa menetapkan harga rotan ini agar kami tidak rugi,’’ katanya.
Dia berharap, pemerintah bisa mencari solusi terbaik agar petani rotan tetap terus bisa mengusahakan rotan ini guna mencukupi kebutuhan tiap harinya. Kalau bisa harga rotan ini ditetapkan Rp140 ribu sampai Rp150 ribu per pikul untuk jenis rotan sigi, sedangkan untuk jenis irit bisa lebih murah.
``Harga tersebut sebenarnya masih tergolong murah, tetapi agar pengumpul juga tidak rugi kami mengambil rata-ratanya, sebab sekarang harga kebutuhan pokok juga mahal,’’ tambahnya.
Maman warga lainnya, juga warga Talingke menambahkan, jika harga rotan ini membaik maka petani rotan di desanya akan menyambut baik. ``Sekarang memang masih banyak juga yang memotong rotannya itu untuk dijual meski murah, sebab warga di sana kesulitan usaha setelah harga rotan murah,’’ katanya.
Untuk itu ia juga berharap agar pemerintah setempat bisa mendengar aspirasi warganya. Yang jelas kalau harganya normal, setiap hari puluhan ton rotan asalan dari desanya dibawa keluar oleh pengumpul.
``Selain dari Kasongan, pengumpul juga ada yang datang dari wilayah Banjarmaisn Kalimantan Selatan,’’ imbuhnya.