Keberadaan Bekantan Harus Dilestarikan

ditulis pada 15 Mei 2017
SAMBUTAN – Sekdakab Batola H Supriyono, menyampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Kawasan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Kuala Lupak, Kabupaten Batola.(KP/dok)

SAMBUTAN – Sekdakab Batola H Supriyono, menyampaikan sambutan pada kegiatan Sosialisasi Kawasan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Kuala Lupak, Kabupaten Batola.(KP/dok)

Marabahan, KP – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), menyelenggarakan Sosialisasi Kawasan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Kuala Lupak yang terdapat di Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala (Batola), Selasa.

Kegiatan yang berlangsung di Aula Bahalap Kantor Bupati Batola dan dibuka Sekdakab Batola Ir H Supriyono MIP ini, melibatkan SOPD terkait, pihak kecamatan, dan para kades. Sosialisasi KPHK yang dipandu Asisten Bidang Pembangunan M Anthony SSos MIP ini, menghadirkan dua pembicara yakni Lukito Andi Widyarto MP (Kepala BKSDA Kalsel) dan Ir HA Ridani MP (Kabid PKSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel).

Sekdakab Batola Ir H Supriyono MIP saat membuka kegiatan mengatakan, bicara Kuala Lupak keberadaannya sangat penting bagi konservasi perikanan di Batola. Walau pun 15 tahun lalu kawasan ini sering menjadi sasaran perambah hutan.

Dalam perjalanan waktu Kuala Lupak akhirnya juga ditetapkan menjadi batas kawasan suaka marga satwa dengan kawasan budidaya lainnya. Untuk mengembalikan fungsi kawasan suaka margasatwa khususnya terhadap habitat Bekantan atau dalam bahasa ilmiah disebut Nasalis Larvatus ini, maka dilakukan penanaman pegitasi danau melalui jalur TNI.

Hal-hal yang perlu dipahami dalam pengelolaan kawasan konservasi Kuala Lupak, sebut mantan Kadishutbun Batola ini, selain mengedukasi kepada masyarakat, kawasan Kuala Lupak sendiri juga masyarakat luar Kuala Lupak tentang pentingnya memelihara keberadaan habitat asli Kalsel khususnya Kabupaten Batola. Dengan adanya KPHK ini, diharapkan keberadaan habitat yang dilindungi ini, tak saja dikenal secara nasional namun bahkan internasional.

Hanya saja, lanjut Sekda yang akrap pak Pri itu, masyarakat diimbau agar tidak memburu dan membunuh habitat langka ini. Masyarakat sebut dia, harus diberi pemahaman agar memberikan alokasi ruang, agar menjadikan habitat ini memungkinkan untuk berkembang biak dan bebas berkeliaran di alam terbuka sesuai kebutuhan dan kenyamanannya.

Supriyono menyebut, di Batola terdapat 3 lokasi yang ditetapkan menjadi ruang konservasi dalam menjaga kepunahan habitat yakni Pulau Kaget, Kuala Lupak, dan Pulau Bakut.

Kabid PKSDAE Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Ir HA Ridani MP dalam makalahnya berjudul Dukungan Pemerintah Provinsi Kalsel Dalam Upaya Penanganan Permasalahan di Kawasan Konservasi menguraikan, upaya penanganan masalah di antaranya melaksanakan sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan.

Selanjutnya, melaksanakan patroli pengamanan hutan, melaksanakan operasi gabungan, penyelesaian tata batas kawasan konservasi, membentuk kelompok Pamhut Partisipatif, membentuk kelompok MPA, pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan perhutanan sosial. (adv/K-6)

You must be logged in to post a comment Login

LANGGANAN BERITA Via EMAIL
Update Berita Terbaru Seputar Kalimantan
Kalimantan Post - Asli Koran Banua.