• Hari ini : Rabu, 18 Juli 2018

Lewat Teh Herbal Daun Sapat Edy Meraup Untung

TEH HERBAL. (Net)
TEH HERBAL. (Net)

Tanjung, KP – Edy Rakhman (34) warga Kelurahan Jangkung RT 6, Kecamatan Tanjung Kabupaten Tabalong, kini bisa dikatakan sukses setelah belajar dari dari pengalaman pribadinya yang bisa sembuh dari sakit pinggang setelah meminum air rebusan daun sapat, kini edy justeru bisa meraup untung dengan menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Keutungan mulai diraih setelah dirinya berhasil mengolah air rebusan daun sapat yang berkhasiat tersebut menjadi teh celup herbal dalam kemasan kotak, secara secara otodidak dari ilmu yang didapat melalui internet. Bukan hanya itu, berkat usahanya mengolah daun sapat menjadi minuman herbal ini, warga sekitar tempat tinggalnya di Kelurahan Jangkung, tepatnya di RT 6 dan 7, juga banyak yang terbantu memiliki tambahan penghasilan.

Ini karena warga sekitar  bisa menjual daun sapat baik yang sudah kering maupun basah ke bank daun sapat yang ada di rumahnya.
Di sini masyarakat bisa ‘menyetorkan’ lembaran daun sapat dan kemudian diganti dengan sejumlah rupiah. Ditemui di rumahnya, Edy nampak sedang menjemur tumpukan daut sapat, sementara sang isteri menyangrai irisan daun sapat yang sudah kering terkena sinar matahari.

“Daunnya yang bagus itu yang pucuk, setelah dipetik lalu dijemur sampai kering dan terakhir disangrai setelah diiris kecil-kecil. Itu saja prosesnya,” ujar Edy yang sehari-hari menjadi honorer di PAUD Al-Quran.

Diceritakan Edy, asal muasal terpikir membikin teh daun sapat ini karena sakit pingang yang dia alami bisa sembuh setelah dua hari meminum air rebusan daun sapat.

Sakit pinggang itu dialaminya sekitar Tahun 2013, karena sudah mencoba minum obat tak sembuh-sembuh, dirinya pun menanyakan kepada ibunya apa resep keluarga untuk bisa menyembuhkan sakit pinggang.

Oleh sang ibu, Edy mengaku disuruh mencari daun sapat yang banyak tumbuh liar di hutan, dimana ciri-cirinya ada warna merah di sisi daun dan tulang daunnya juga berwarna kemerahan.

“Setelah dapat, daunya saya rebus dan kemudian diminum. Rasanya memang agak sepat, tapi khasiatnya terasa dalam dua hari saya tidak lagi sakit pinggang,” ucap penggiat LSM Lembaga Konsumen Tabalong ini.
Dari situlah, imbuh Edy dirinya terpikir untuk bisa membuat menjadi teh dan berusaha mencari tahu bagaimana proses pembuatan teh di internet.

Termasuk soal membuat kemasan dan bentuk teh celup juga didapatnya dengan belajar dari browsing di internet. Lalu bagaimana agar bahan baku bisa didapat dengan mudah Edy pun kini mulai membudidayakan tanaman daut sapat, bahkan di pekarangannya juga sudah tumbuh beberapa pohon daut sapat.

Selain itu dirinya juga melibatkan warga sekitar yang dibinanya untuk membudidayakan juga tanaman daun sapat. Saat ini sudah ada 12 Kepala Keluarga di RT 6 dan RT 7 yang menjadi binaannya untuk budidaya tanaman daun sapat.

Untuk satu kepala keluarga diberikannya 5 batang bibit.
“Jadi nanti mereka menjualnya kesini melalui Bank daun sapat yang kami dirikan. Untuk satu kilo daun sapat kering akan diharga Rp12 ribu dan yang basah perkilonya Rp2.500,” katanya. Apabila ternyata stok daun sapatnya berlebih maka oleh Edy selain untuk jadi bahan baku teh herbalnya, daun sapat juga akan dijual lagi ke pengepul yang mengeskpor ke China.

“Soalnya produksi teh yang kita buat saat ini hanya skala kecil dengan alat seadanya, jadi bila daunnya banyak maka akan kita kirim lagi ke pengepul,” jelasnya.

Untuk produk teh herbal nya sendiri,juga belum dipasarkan secara luas. Saat ini hanya terdapat di Pusat Oleh-oleh Khas Tabalong (POKTA) dengan harga Rp25 ribu perkotak berisikan 15 kantong teh.

Selain itu dirinya juga melayani pemesanan bagi yang ingin tehnya langsung bisa diminum melalui kemasan botol.

“Kalau yang di POKTA itu kadang-kadang dalam sebulan bisa saja hhabis sampai 20 kotak dan ada juga yang langsung pesan ke rumah,” katanya. (hms/ros/K-6)

Tag:
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua