• Hari ini : Minggu, 23 September 2018

Makam ‘Janggut Merah’ Bernilai Budaya Tinggi

Damang Kepala Adat Desa Ipu Mea, Yuliantoni (60) memperlihatkan bagian makam Mariang Janggut yang memiliki sejarah adat dan budaya Dayak Maanyan disana.Makam Mariang Janggut Miliki Nilai Budaya.

TAMIYANG LAYANG, KP – Mariang Janggut atau Janggut Merah merupakan salah satu makam leluhur warga Dayak Maanyan yang terletak di Desa Ipu Mea, kecamatan Karusen Janang, yang memiliki nilai sejarah adat dan budaya khas Dayak.

Demang Kepala Adat Desa Ipu Mea, Yuliantoni (60) yang merupakan generasi ke-8 dari leluhur Mariang Janggut mengatakan, makam leluhur mereka tersebut telah ada sekitar 500 tahun yang lalu.

“Dahulu, ada acara ritual adat diwilayah Kedemangan Paju Epat (sekarang kecamatan Paju Epat) yang disebut Ijjambe (pembakaran tulang). Pada saat itu, sepasang tulang bersama tulang belulang lainnya dibakar. Saat keenam kalinya, sepasang tengkorang itu meloncat dari api dan ketujuh kalinya kangsung menghilang,” kata pria yang akrab disapa Pak Adat kepada Wartawan Kalimantan Post Sabtu (8/9 ).

Kemudian ditemukan dibalai dan kini dijadikan makamnya. Antara tempat riual Ijambe dengan lokasi makam berjarak 1 kilometer lebih.

Para balian yang sedang melaksanakan ritual Ijambe mengalami kesurupan masal dan menyampaikan bahwa tengkorak tersebut minta dibawa pulang ke Desa Ipu Mea dan minta dibuatkan Sandung (rumah) sendiri.

Sepasang tengkorang itu adalah sepasang suami isteri yang menjadi luluhur Dayak Ma’anyan di Desa Ipu Mea. Nama kedua leluhur itu tidak boleh sembarangan disebut.

Yang boleh menyebutnya hanya keturunan saja dan hanya pada acara ritual adat Midid atau menyajikan persembahan kepada luluhur.

Ritual Miwid awalnya dilaksanakan pada bulan Agustus. Dalam perkembangan, pelaksanaan ritual Miwid ditetapkan tiap tanggal 25 Agustus setiap tahunnya.

Dalam ritualnya, ada beberapa jenis penganan khas suku dayang Ma’anyan yang dibuat seperti nasi ketan, nasi biasa, lamang, ketupat, cucur, sangkuai, dan lainnya. Dan hewan yang harus ada yakni ayam biring atau ayam merah.

“Jadi, dalam ritual ini bisa bernazar (niat). Misal, jika sukses maka akan melaksanakan Ritual Miwid disini dan makam ini bisa menjaga kampung dari marabahaya,’’ kata Yuliantoni.

Keajaiban kedua, pernah keluar jenggot kawat berwarna kuning dari tengkorak. Namun disayangkan, kawat tersebut telah raib diambil salah satu keturunan Mariang Janggut.

Bagian keturunan yang mengambil besi kuning itu terkena tulah atau disebut kualat dan saat ini hanya tersisa satu orang saja. Jika meninggal, maka keturunannya akan habis.

Ritual Miwid terus dikaksanakan keluarga secara turun temurun hingga saat ini. Pengunjungnya tidak hanya dari Kabupaten Barito Timur, tapi dari Jakarta bahkan ada warga negara asing yang datang berkunjung.

“Kemungkinan pada bulan Desember 2018, ada keluarga dari Samoit, Kotim yang akan datang kesini untuk melaksanakan ritual Miwid karena bernazar jika usahanya sukses dan kini mulai sukses,’’ tutup Damang Kepala Adat Desa Ipu Mea, Yuliantoni. (Vna/K-8)

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua