• Hari ini : Minggu, 19 Agustus 2018

Manusia Kolong Jembatan, Ironis Pol PP Temukan Bayi

BANJARMASIN, KP – Kesenjagangan sosial dengan kemajuan Kota Banjarmasin berdirinya hotel mewah, mall serta fasilitas lainnya, namun sisi lain masih terasa dengan warna kehidupan manusia di bawah kolong jembatan.

Lebih ironis, dalam suatu operasi yang digelar Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jumat (20/7) siang, menemukan bayi yang baru berumur tiga bulan di bawah Jembatan Merdeka.

Ketika itu, sejumlah anggota Satpol PP Kota Banjarmasin gelar operasi dikomando (Danton) I, Rizkan Wahyudi.

Sebelumnya itu, anggota Satpol PP terlebih dulu memantau dengan susur Sungai Martapura menggunakan kelotok (perahu kecil bermotor,red) dan hasilnya, terjaring si bayi itu beserta ibunya.

Upaya Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin mewujudkan `kota bersih wan nyaman’ terus dilakukan.

Usai merazia para penghuni kolong Jembatan Merdeka, termasuk Jembatan Antasari, giliran warga yang bermukim di sekitar Jembatan Merdeka digaruk.

Saat itu, ketika melihat petugas, pasangan suami isteri mengancam akan melempar bayinya ke Sungai Martapura, apabila Satpol PP merapat ke Jembatan Merdeka.

“Bersyukur, saat diamankan tidak ada perlawanan. Razia berjalan lancar,’’ kata Rizkan Wahyudi kepada {[wartawan]}, usai razia.

Rizkan menegaskan aksi penertiban ini untuk membersihkan agar kawasan kolong jembatan tak dijadikan tempat tinggal.

Bahkan juga dijelaskan, Jembatan Merdeka termasuk zona wisata susur sungai, sehingga jika dibiarkan tetap kumuh akan bertolak belakang dengan kondisi bersih dan nyaman yang ingin diwujudkan Pemko Banjarmasin.

“Untuk ibu dan bayi beserta barang-barangnya telah kami serahkan ke Dinas Sosial Kota Banjarmasin.

Jika bayi baru lahir itu tetap tinggal di bawah Jembatan Merdeka sangat rawan bagi kesehatannya,’’ tambah Rizkan.

Rizkan membeberkan, dari pengakuan ibu bayi benarma Wati asal Alalak Berangas, Kabupaten Barito Kuala.

Wati bersama suaminya berasal dari Asam-Asam, Tanah Laut. Terdata, sudah dua bulan menetap sebagai penghuni di bawah Jembatan Merdeka.

Sementara itu, Wati mengaku tinggal bersama ibu dari suaminya di Asam-Asam.

Namun, karena sering terjadi bertengkar dengan suami dan mertuanya, terpaksa pindah ke Banjarmasin.

Ia pun memilih menetap di bawah Jembatan Merdeka sebagai pilihan akhir tempat berlindung dari sinar matahari dan hujan.

“Jadi, sudah dua bulan saya menginap di bawah jembatan ini. Selama ini, suami saya menafkahi hidup dengan cara memancing dan menjadi pemulung,’’ katanya.

Dari kenyataan itu pula ditanggapi berbagai pihak bahwa sangat sulit untuk mendefinisikan dan memahami makna kota sebenarnya.

Kota, merupakan integrasi manusia yang membentuk komunitas di dalamnya dengan berbagai aktivitas kehidupan.

Apakah itu industri, perdagangan, pendidikan dan sebagainya. Dan penertiban dilakukan itu sangat wajar demi keselamatan penghuni kolong jembatan, kerawanan sosial dan hendaknya pula kedepannya pejabat-pejabat pilihan rakyat memikirkan atas temuan kesenjagaan sosial. (vin/K-2)

 

 

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua