MUI Keluarkan Fatwa Tentang Ajaran Kyai Aseri

ditulis pada 19 September 2017

Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Hulu Sungai Utara akhirnya mengeluarkan Fatwa, terkait dengan ajaran Kyai Aseri, Senin (18/9)

Amuntai, KP – Setelah melakukan penelitian, pengkajian dan Tabayyun terkait dengan ajaran Kyai Aseri yang diduga menyimpang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) akhirnya mengeluarkan Fatwa.

Ada beberapa poin Fatwa yang disampaikan, pada Senin (18/9), yang dihadiri dalam penyampaian Fatwa tersebut, Ketua MUI, KH Said Masrawan, Anggota Dewan Pertimbangan MUI, KH Saberan Effendi, KH Abdul Bari, Ketua Kajian Penelitian MUI, KH Abdul Rahim, serta hadir pula dalam kesempatan itu, Kasat Intelkam AKP Cece Sudrajat.

Sebagaimana diketahui beberapa waktu lalu MUI HSU telah melakukan Tabayyun dan Muzakkarah ke kediaman Kyai Aseri di Desa Cempaka, Kecamatan Amuntai Selatan guna menanyakan isu yang beredar di masyarakat.

Ketua Umum MUI Said Masrawan dalam kesempatan itu bahwa dari hasil pengkajian dibagi Ada sembilan tema, diantaranya yang dipaparkan siapa itu wali, apa tanda wali, dan bagaimana ditinjau dari syariat.

Ketua MUI menjelaskan dikeluarkannya Fatwa ini sebagaimana merupakan memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai bagaimana pemahaman agama Islam sesuai dengan Al Quran dan Hadist.

“Pengeluaran fatwa ini lebih kepada edukasi kepada masyarakat. Supaya masyarakat dapat membentengi diri dan keluarga terkait ajaran yang menyimpang,’’ terang Said.

Said mengucapkan terima kasih kepada alim ulama yang telah melakukan pengkajian dan membuka nash-nash, serta pihak terkait lainnya guna memberikan fatwa terkait dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat selama ini.

Kasat Intelkam, AKP Cece Sudrajat yang hadir pula dalam kesempatan itu, mengungkapkan terkait dengan terbitnya Fatwa tersebut mengucapkan terima kasih kepada MUI serta alim ulama dan jajarannya.

“Berkat kerja keras sehingga dapat diambil kesimpulan apa yang diajarkan oleh Kyai Aseri ini atau Kyai Harum,’’ katanya.

Melalui Fatwa ini Sehingga masyarakat dapat mengambil kesimpulan.

Dan Alhamdulillah terang Cece permasalahan ini dapat diselesaikan dengan baik tanpa ada gesekan sehingga suasana di HSU tetap dalam keadaan kondusif.

“Suasana di HSU tetap aman dan kondusif,’’ lanjutnya.

Adapun Fatwa yang dibacakan KH Abdurahim, di Studio Dinas Komunikasi dan Informatika bahwa MUI HSU telah melakukan pengkajian dan penelitian berbagai isu yang beredar di masyarakat terkait dengan ajaran Kayi Aseri.

Dari hasil Tabayyun dan penelitian guna memberikan informasi bagaimana isu beredaar tersebut menurut yang sesuai dengan tuntunan agama bersumber dari Al Quran dan Hadist maka dikeluarkanlah Fatwa ini.

Empat Poin Fatwa yang dikeluarkan oleh MUI diantaranya dimana Kyai Aseri atau yang biasa disebut Kyai Harum mengaku berusia 86 tahun adalah seseorang yang biasa didatangi masyarakat dari luar daerah guna meminta air berkah untuk berbagai niat dan keperluan, seperti untuk penyembuhan penyakit dan lain sebagainya.

Mengani adanya isu tentang tidak sholat lima waktu tidak berpuasa pada bulan ramadhan, seperti yang disebut orang beliau (red- Kyai Aseri) membantah dan mengatakan bahwa itu hanyalah fitnah.

Adapun Fatwa lainnya yang dikeluarkan MUI HSU tersebut bahwa Kyai Aseri terbukti tidak memiliki ilmu agama, seperti hukum menghadap kiblat saat sholat, hukum kewajiban sholat jumat, hukum berjabat tangan dengan mahram.

Fatwa MUI untuk menghimbau kepada masyarakat bahwa berdasarkan hasil dari pengkajian dan peneletian untuk tidak belajar agama kepada beliau.

Fatwa MUI yang dikeluarkan juga menghimbau kepada semua pihak baik Kyai Aseri dan pengikutnya maupun masyarakat secara umum diwajibkan menahan diri agar tidak melakukan tindak kekerasan atau criminal baik fisik (nov/K-2)

You must be logged in to post a comment Login

LANGGANAN BERITA Via EMAIL
Update Berita Terbaru Seputar Kalimantan
Kalimantan Post - Asli Koran Banua.