• Hari ini : Kamis, 18 Januari 2018

Musim Hujan Waspadai Bahaya Banjir

Tibanya musim hujan warga Banjarmasin dihimbau untuk meningkatkan kebersihan lingkungan, terlebih khusus selokan, saluran pembuangan air atau drainase serta sungai, agar jangan sampai tersumbat oleh sampah. Tampak beberapa warga bergotong royong membersihan saluran air beberapa waktu lalu.
Tibanya musim hujan warga Banjarmasin dihimbau untuk meningkatkan kebersihan lingkungan, terlebih khusus selokan, saluran pembuangan air atau drainase serta sungai, agar jangan sampai tersumbat oleh sampah. Tampak beberapa warga bergotong royong membersihan saluran air beberapa waktu lalu.

BANJARMASIN, KP – Setelah dilanda kemarau, Kota Banjarmasin kini tengah memasuki musim hujan. Meski banyak membawa berkah, namun jika curah hujan tinggi perubahan iklim itu tidak  jarang menjadi masalah bagi aktifitas kehidupan manusia. Seperti  jalan tergenang air dan ancaman bahaya banjir.

Menyadari ancaman tersebut, meski banjir tidak separah sejumlah kabupaten di Kalsel atau sejumlah daerah lainnya di Indonesia, warga Kota Banjarmasin diminta harus tetap waspada, seperti halnya melalui upaya antisipasi dengan meningkatkan kebersihan lingkungan.

“Terlebih khusus selokan, saluran pembuangan air atau drainase serta sungai,  agar jangan sampai tersumbat oleh sampah. Masalahnya, jika seluruh tempat pembuangan air itu sampai mampet, maka lingkungan akan menjadi tergenang akibat air hujan,’’ himbau Kepala Dinas Sungai, Sumber Daya Air dan Drainase Kota (DSDAD) Banjarmasin, Ir Muryanta kepada {{KP}}, Jumat (7/10).

Ia menegaskan, masyarakat harus membiasakan diri baik perorangan maupun bersama-sama secara gotong royong untuk menjaga dan memelihara kebersihan selokan draianase dan sungai.

Masalahnya, kata Muryanta, jika tugas itu hanya dibebankan kepada Pemko Banjarmasin tanpa partisipasi seluruh masyarakat untuk menjaga dan memelihara lingkungan hasil yang dicapai kurang maksimal.

“Kendati kita sudah berusaha dan terus meningkatkan pemeliharaan dan melakukan pembersihan drainase dan sungai dari lumpur maupun sampah. Dan Alhamdulillah kemungkinan genangan air akibat hujan di sejumlah ruas jalan saat ini sudah dapat kita antisipasi,’’ ujar Muryanta.

Hal senada juga dikemukakan Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Abdul Muis. Namun demikian ia berharap, untuk menjaga kelestarian lingkungan Pemko melalui DSDAD agar terus meningkatkan kinerjanya.

“Sebab, menyusul hujan mengguyur kota Banjarmasin dalam beberapa minggu terakhir masih ada sejumlah ruas jalan yang tergenang air.  Meski tidak sampai berlangsung lama,’’ ujar anggota dewan dari F-PAN ini.

Lebih jauh terkait upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan kota ini, Abdul Muis berharap, Pemko Banjarmasin lebih fokus lagi dalam melakukan penataan kota ini kedepan. Menurutnya, salah satu upaya yang harus dilakukan adalah perlu adanya peningkatan Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Ia menilai, akibat berbagai kepentingan dan pesatnya aktivitas pembangunan  pemanfaatan ruang, termasuk RTH dalam rangka menciptakan ruang yang nyaman, produktif dirasakan hingga saat ini masih belum sesuai dengan harapan.

Padahal, lanjut Abdul Muis menegaskan, cukup ketersediaan Ruang Terbuka Hijau bukan hanya bisa memberikan manfaat di bidang ekonomi dan sosial. Tapi juga berfungsi sebagai daerah resapan.

Menurutnya, berdasarkan kajian para pakar lingkungan, bahwa proses terjadinya banjir bukan hanya disebabkan oleh kondisi alam yang statis seperti geografis, topografis dan geometri alur sungai, peristiwa alam yang dinamis seperti curah hujan yang cukup tinggi, tapi juga akibat suatu daerah kurang memiliki kawasan resapan air.

Dikatakannya, kebijakan dan program pemerintah dalam mengatasi permasalahan banjir selama ini seperti membangun drainase dan melakukan normalisasi sungai hanyalah sekedar upaya yang bersifat represif.

Hal senada juga dikatakan, Totok Hariyanto SPd, yang menilai betapa pentingnya tersedianya RTH. Menurutnya menyadari hal tersebut pemerintah menerbitkan UU : Nomor : 26 tahun 2007 Tentang Tata Ruang Nasional.

“Dalam UU ini dari seluruh luas wilayah yang dimiliki setiap daerah, minimal tersedia 30 persen RTH. Namun sayangnya, pemahaman berbeda akan pentingnya RTH secara mamadai sering terkalahkan akibat kepentingan lain” demikian kata Totok Hariyanto yang juga anggota komisi III DPRD Kota Banjarmasin ini. (nid/K-5)

Tag:,
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua