Kalimantan Post - Koran Asli Banua

Update Terakhir :08:29:53 AM GMT

Headlines:
>> Nasional Kualitas Air Sungai di Banjarmasin Tercemar

Kualitas Air Sungai di Banjarmasin Tercemar

E-mail Cetak PDF

BANJARMASIN, KP – Sejumlah sungai di Banjarmasin telah mengalami pencemaran zat-zat kimia mulai dari besi, timbal, mangan, air raksa, kadmium, sulfat, klorida dan sejenis.
Bahkan diantara sampel air sungai di Banjarmasin, kualitas air di Sungai Alalak, Kayu Tangi yang sekarang ini sudah mengalami pencemaran terburuk karena mengandung kadar zat-zat kimia tertinggi dibanding sungai lainnya di wilayah ibukota Provinsi Kalsel ini.

``Badan Lingkungan Hidup setelah bekerjasama dengan Balai Pengembangan Teknologi dan Konstruksi, telah melakukan beberapa penelitian tentang kualitas air sungai, namun dari hasil penelitian tersebut Sungai Alalak yang paling rendah kualitasnya,’’ Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Banjarmasin H Rusmin A kepada wartawan di Banjarmasin, Selasa (6/7).

Menurutnya, dari hasil penelitian tersebut Sungai Alalak memiliki kadar mangan (mn) tinggi yakni 165 mg/l atau diatas indikator kelas 1 yang idealnya hanya 0,1 mg/l. Demikian juga dengan kandungan sulfat, khorida dan bahan besi termasuk tinggi.

Dari hasil penelitian, lanjutnya lagi, salah satu penyebab tingginya pencemaran yang terjadi di Sungai Alalak, dikarenakan daerah Alalak merupakan daerah yang dulunya banyak ditemukan stockpile batubara, pabrik industri yang selalu membuang limbah ke sungai.

``Akibat dari itu, kualitas air di Sungai Alalak ditemukan zat-zat kimia yang tentunya sangat berbahaya jika dikonsumsi manusia,’’ ujarnya.

Selain limbah dan stokpile batubara, sampah yang dibuang ke sungai pun sangat mempengaruhi kualitas air terutama terhadap rendahnya pH air, selain juga dipengaruhi oleh jenis tanahnya. Rata-rata hampir seluruh air sungai di kota ini mengalami pH rendah yakni dibawah kadar indikator 6,0-9,0. Dan yang paling rendah kadar pH-ya Sungai Alalak yakni 4,32.

``Terus terang selain tercemar, pH sangat rendah ini juga tidak bagus untuk dikonsumsi, karena sedikit mengandung kalsium sehingga dapat mengeroposkan gigi, oleh karena itu jika ingin mengkonsumsinya maka perlu ditambah lagi dengan kapur agar netral,’’ terangnya.

Rusmin juga mengakui khusus untuk penelitian kualitas air sungai ini dilakukan tiap tiga bulan sekali. BLHD mengambil sejumlah sampel air sungai yakni air Sungai Martapura, Barito, Pelambuan, Mulawarman, Barito, Alalak, Banua Anyar, Sungia Bilu, Pekapuran (Sungai Baru), Sungai Kelayan dan Sungai Basirih.

Langkah ini dilakukan, ujarnya, untuk memberikan kepastian masyarakat yang biasa mengunakan air sebagai sumber kehidupan mulai mandi, cuci, dan kebutuhan lainnya ini diproyeksikan kedepan jika hal ini tidak segera dilakukan antisipasi akan berpengaruh dengan kekebalan tubuh manusia terutama pemakai air dalam kehidupan sehari-hari meskipun tak untuk minum. (vin/K-5)