• Hari ini : Jumat, 19 Oktober 2018

Nelayan – Petani Trauma Dampak Tambang Batubara

Kotabaru, KP – Rencana tambang batubara di Pulau Laut, dan dampaknya bikin trauma masyarakat nelayan dan petani setempat

Utamanya di Kecamatan Pulau Laut Timur, daerah yang rencananya akan ditambang pertama kali.

Bahkan warga transmigrasi di Desa Bekambit Asri Kecamatan Pulau Laut Timur, juga resah.

Disebut, rencana tambang batubara dinilai akan mengganggu mata pencaharian petani dan nelayan.

Keresahan itu sangat beralasan seperti halnya pencari ikan.

Dalam sehari, jika cuaca cerah, pemancing ikan gabus bisa mendapat ikan puluhan kilogram.

Rata-rata antara sepuluh sampai dua puluh kilogram ikan bisa dipancing di aliran Sungai Desa Bekambit Asri.

Harga ikan di pusat kota mencapai Rp40 ribu per kilogram.

Jika dapat 20 kilogram, nelayan bisa kantongi bersih Rp800 ribu.

Tapi nelayan di sana tidak mau repot ke pasar kota, mereka cukup jual di desa Rp25 ribu per kilogram.

Bono salah satu pemancing mengatakan, jika tambang batubara masuk, dia takut habitat ikan air tawar itu terganggu karena limbah.

Selain ikan air tawar, Pulau Laut Timur juga penghasil ikan laut.

“Rata-rata nelayan mengaku khawatir dengan rencana pertambangan di sana.

Pengalaman sudah terjadi di Pulau Sebuku,’’ katanya.

Lain lain kata Muhammad salah satu nelayan  di Sebuku, kini banyak mencari ikan ke luar, masuk ke perairan Pulau Laut.

Karena beberapa pesisir potensial di Sebuku sudah tercemar limbah batubara.

Hal sama dirasakan warga transmigrasi, Julak Antung dan ia sebut warga tidak akan tergiur dengan iming-iming ganti rugi.

Wanita itu mengatakan sudah melihat dampak dari tambang di beberapa daerah.

“Ganti rugi beli sepeda motor, tanah habis. Untuk apa,’’ ujarnya.

Dia menambahkan sudah banyak warga menyesal menjual lahan ke tambang.

Uang ganti rugi habis, sementara warga tidak punya lahan lagi.

Ketua Kongres Rakyat Pulau Laut Menolak Tambang, Sugian Noor mengatakan, tambang batubara untungnya hanya dinikmati segelintir orang. Sementara mudaratnya dirasakan banyak orang.

“Paling tambang sepuluh tahun habis. Nah kalau sudah habis bagaimana warga yang di sana?,’’ tanyanya.

Dia menambahkan, Pulau Laut adalah kawasan pertanian, perkebunan dan perikanan.

“Ini pulau. Kalau ditambang, mata pencaharian warga yang jadi nelayan dan petani akan terganggu, skill mereka itu saja,’’ pungkasnya. (*/K-2)

loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua