Oknum Pendeta Lakukan Penipuan `Diseret’ ke Mejahijau

ditulis pada 12 Agustus 2017

Foto Ilustrasi. (google)

Banjarmasin, KP – Seorang oknum yang mengaku pendeta `diseret’ (dibawa,red) dan kini duduk di kursi terdakwa pada Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin dengan tuduhan melakukan penipuan terhadap korabAn Adi Surya Dewa.

Terdakwa Jimmy Halim yang didakwa melakukan penipuan tersebut bernilai Rp8 M untuk digunakan dalam bisnis semen.

Majelis Hakim pengadilan tersebut yang dipimpin Heri Susanto, pada sidang pertama, Kamis (10/8), oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwarti dihadirkan saksi korban, setelah pembacaan dakwaan.

Pada kesaksiannya Adi Surya menceritakan awal perkenalannya dengan terdakwa, melalui saudara sepupu, yang menyebutkan kalau terakwa selain sebagai pendeta juga berbisnis semen.

Percaya kalau seorang pendneta itu baik, korban tidak sega segan mengulurkan dananya secara tertahap kepada terdakwa.

Tertarik dengan peluang bisnis semen tersebut saksi akhirnya mau menyerahkan uang sebesar Rp500 juta untuk investasi pertama.

Selanjutnya kemudian investasi dengan nilai Rp2 miliar.
Ia percayua betul kalau bisnis ini puinya peluang baik, lebih lebih terdahwa mengaku serroang pendeta.

“Seorang pendeta tentunya akan berbuat baik, begitu juga dengan berusaha, tetapi kenyataannya tidak seperti yang saya harapkan,’’ kata saksi menjawab pertanyaan majelis kenapa percaya pada terdakwa.

“Pikiran saya waktu itu, seorang pendeta tidak mungkinlah berbuat macam-macam,’’ katanya.

Ia juga menyebutkan karena adanya bebetrapa jaminan akhirnya investasi yang diserahkan.kepada terdakwa sebesar Rp8 miliar.

“Saya berani menginvestasikan begitu besar karena ada beberapa jaminan barang. Juga saya pernah dibawa ke gudang semen dan dikenalkan dengan beberapa bayer semen baik di Sampit maupun Pangkalanbun,’’ ucapnya.

Investasi yang dilakukan saksi korban dengan terdakwa dibuat surat perjanjian tanggal 13 September  2013, salah satunya saksi akan mendapatkan 50 persen dari keuntungan.

Namun sayang pada pembayaran dibulan pertama dari jumlah yang seharusnya diterima Rp3 miliar lebih cuma bisa dibayar oleh terdakwa Rp2,6 miliar, sisanya sekitar Rp900 tidak ada laporan dari terdakwa.

“Bulan berikutnya seperti itu juga. Hingga bulan ke 9 terdakwa mulai sulit dihubungi dan akhirnya menghilang,’’ kata saksi.

Tak bisa lagi menghubungi terdakwa, lanjut saksi mencari-cari informasi, yang salah satunya ternyata terdakwa punya masalah kredit macet di bank.

“Ternyata semua aset yang dia jaminkan pada saya semuanya sudah diagunkan ke bank malah sudah disita. Saya betul-betul sudah dibohongi dari awal,’’ terang saksi.

Kini dia lanjut saksi dirinya hanya bisa berharap terdakwa dihukum setimpal.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwarti,SH dalam dakwaannya menjerat terdakwa dengan pasal penipuan dan penggelapan yakni pasal 372 dan 378 KUHP. (hid/K-4)

 

You must be logged in to post a comment Login

LANGGANAN BERITA Via EMAIL
Update Berita Terbaru Seputar Kalimantan
Kalimantan Post - Asli Koran Banua.