Indonesia sebagai sebuah Negara yang berpenduduk cukup besar terus berupaya melaksanakan pembangunan di berbagai bidang kehidupan, dalam upaya menuju masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera lahir dan batin.
Pembangunan yang dilaksanakan harus menyeluruh, bukan saja pada bidang fisik, tetapi juga pada bidang mental dan keagamaan, hal ini kayaknya cukup penting dalam menempa masyarakat yang tahan uji dan menghindari berbagai pengaruh budaya asing yang bisa menghancur kehidupan.
Oleh karena itu sangatlah tepat kiranya, kalau dalam melaksanakan pembangunan harus berdasarkan nilai-nilai agama, karena dengan nilai agamalah kita harap akan dapat mewujudkan masyarakat Indonesia yang paripurna dan utuh.
Untuk itulah pemerintah hendaknya dapat menempuh upaya-upaya peningkatan kualitas pemahaman nilai-nilai agama dalam perilaku kehidupan sehari-hari baik bagi masyarakat, generasi muda maupun aparatur penyelenggara negara.
Oleh karena itu, sebagai warga masyarakat kita sangat mengharapkan kepada pemerintah, khusus pemerintah daerah yang sangat erat berhubungan dengan masyarakat hingga level yang paling bawah kiranya senantiasa mendorong tumbuh dan berkembangnya pondok-pondok pesantren, majelis ta’lim, kelompok-kelompok yasinan, pengajian, remaja mesjid, PHBI dan sebagainya.
Karena dengan keberadaan lembaga-lebaga dan organisasi social keagamaan semacam itu sangat besar manfaatnya untuk memberikan siraman rohani dan keagamaan kepada warga masyarakat.
Khususnya di kampung-kampung dan pedesaan lembaga semacam ini sangat disenangi dan digemari oleh warga masyarakat yang sekaligus juga sarana dan ajang silaurrahmi antar warga pedesaan.
Sebenarnya kita sangat senang melihat para ibu di kampung-kampung pada hari tertentu berbondong-bondong datang ke lembaga sosial keagamaan, seperti kegiatan Arisan, Yasinan atau belajar agama ke majelis taklim dan sejenisnya. Hal ini tentu para ibu banyak mendapat masukan dan siraman keagamaan, di samping juga akan terjadi hubungan dan jalinan yang erat antar warga desa.
Apalagi dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, hubungan manusia antar Negara di dunia seakan tidak memiliki sekat lagi, budaya luar masuk begitu mudahnya, baik lewat televisi, internet, face book dan lainnya. Kalau tidak diimbangi dengan ajaran agama yang mantap, tidak menutup kemungkinan warga kita akan kehilangan identitasnya sebagai masyarakat yang berbudaya, beragama dan santun dalam pergaulan.
Oleh sebab itu kita sangat mendukung kepada pemerintah untuk mengembangkan pembangunan ke depan harus selalu memperhatikan nilai-nilai agama, budi pekerti dan akhlakul karimah. Karena kita tahu dengan nilai-nilai semacam itu generasi muda kita bisa terselamatkan.
Ambil contoh, dalam upaya membentuk generasi yang berakhlakul karimah, pemerintah hendaknya selalu mendorong tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga yang bernuansa keagamaan, seperti ketika warga masyarakat ingin mendirikan TK Al- Qur’an (TKA) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) mnisalnya. Kalau perlu pemerintah daerah bisa memfasilitasi dan membantu berdirinya inisiatif semacam ini, karena dampaknya bukan hanya bagi masyarakat sekitarnya, tetapi juga bagi pemerintah daerah itu sendiri.
Dengan hadiri sebuah lembaga pendidikan yang mengajar baca tulis Al Qur’an semacam ini misalnya, sedikit banyak akan dapat mempengaruhi perkembangan kehidupan generasi muda yang belajar di tempat itu, karena sedikit banyak mental keagamaan mereka akan terisi, dan ini yang sebenarnya diharapkan oleh pembangunan di masa yang akan datang, yaitu terwujudnya sumberdaya manusia yang berkualitas tinggi, baik secara fisik maupun mental keagamannya.
Mudah-mudahan pemerintah selalu mendorong terwujudnya pengembangan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat, seperti pembangunan madrasah yang bermutu tinggi bahkan kalau perlu mendirikan madrasah yang bertaraf Internasional dari Kementerian Agama.
Kalau pemerintah konsisten dalam rangka mengembangkan dakwah dan syiar Islam, maka berbagai keinginan masyarakat untuk menciptakan lembaga-lembaga yang bernuasa keagamaan niscaya akan didukung sepenuhnya.
