Terkait dengan tergenangnya banyak kawasan permukiman ini ini kita patut mewaspadai serangan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Faktanya memang di sejumlah daerah di Kalsel sudah terserang DBD.
Bahkan sudah ditetapkan kejadian luar biasa (KLB) seperti Kota Banjarmasin, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, dan Kabupaten Kotabaru. Kondisi KLB ini bisa diartikan karena terjadi peningkatan kasus DBD dua kali lipat dari bulan sebelumnya.
Diperkirakan serangan DB ini akan makin meningkat seiring musim hujan masih berlangsung. Pasalnya, kondisinya memungkinkan untuk berkembangbiaknya nyamuk `aedes aegepti’.
Kita tetap perlu waspada karena penyakit ini masih bisa mewabah sampai musim penghujan berakhir. Mengingat penyebaran serangan DBD tahun ini lebih cepat dan lebih banyak menimbulkan korban.
Malah untuk tahun ini penderita DBD ini juga diperkirakan meningkat dari tahun lalu. Tahun 2008 lalu saja jumlah serangan demam berdarah di Kalsel tercatat sebanyak 730 kasus dan 12 penderita di antaranya meninggal dunia.
Tinggal sekarang, kesiapan kita dalam mengantisipasi serangan DBD, baik melalui cara pencegahan sampai penanganan.
Upaya menjaga kebersihan lingkungan, pembasmian sarang nyamuk aedes aegepti, hingga penanganan korban atau penderita DBD harus jadi prioritas masing-masing daerah. Peran masyarakat sendiri dalam menjaga kebersihan lingkungan sangat menentukan dalam mencegah nyamuk aedes aegepti bersarang.
Lebih baik mencegah daripada mengobati serangan DBD, di antaranya melalui upaya menjaga kebersihan lingkungan, pembasmian sarang nyamuk aedes aegepti. Cara 3M plus (menutup tempat air, menguras dan mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menampung air hujan, serta menabur bubut abate) harus dilaksanakan warga sendiri, seperti kaleng dan botol dan barang bekas lainnya, baik secara sendiri-sendiri maupun gotong royong antarwarga.
Melaksanakan 3M tentu tidak hanya dilakukan secara temporer atau sewaktu-waktu, tetapi harus terus menerus, mengingat selama ada hujan potensi sarang nyamuk aedes aegepti juga masih ada.
Patut diketahui cara 3M plus dinilai paling efektif atau terampuh untuk mencegah serangan DBD. Sementara kenyataannya kebiasaan di masyarakat hanya mengandalkan pencegahan berupa `fogging’ (penyemprotan) yang biasanya dilakukan setelah kawasan permukiman tersebut terserang DBD.
Karena tanpa kita sadari serangan DBD terjadi karena adanya nyamuk itu bersarang di sekitar tempat tinggal penderita. Karena itu harus ada kesadaran sendiri dari masyarakat untuk berperan serta untuk menerapkan pola hidup sehat.
Untuk pembasmian sarang nyamuk aedes aegepti sendiri, sudah jelas kita minta pemerintah berperan aktif. Terhadap daerah permukiman yang terserang DBD, pemerintah melalui dinas kesehatan setempat diminta melakukan penyemprotan (fogging) massal dan pemberian bubuk abate untuk mematikan jentik-jentik atau bibit nyamuk di bak-bak penampungan air.
Sejatinya, lebih bagus lagi bila `fogging’ massal juga dilakukan terhadap daerah yang belum terserang DBD. Tentunya penyemprotan massal dan pemberian bubuk abate diberikan secara gratis terhadap masyarakat.
Barangkali dinas kesehatan pada daerah tertentu terkendala dalam hal pembiayaan dalam melakukan `fogging’. Untuk perlu dibicarakan dengan Pemkab dan DPRD setempat untuk dicarikan jalan keluarnya.
Selain itu, kita tidak menutup mata bahwa ada oknum warga yang memanfaatkan momentum ini dengan menjual bubuk abate kepada masyarakat dengan harga yang sangat yang relatif mahal. Diharapkan Dinas Kesehatan dan perangkat pemerintahan seperti kelurahan dan RT sendiri bisa menertibkan hal ini agar tidak memberatkan beban ekonomi warga.
Sedang dalam penanganan penderita DBD, kita bersyukur ternyata belum ada satu pun daerah di Kalsel yang menyatakan kewalahan, termasuk rumah sakit dan paramedisnya yang sudah siaga dengan adanya penetapan status KLB di daerah mereka. Apalagi jika dinyatakan KLB, maka biaya pengobatan di rumah sakit digratiskan kepada masyarakat.
