Bagi orang yang tidak sadar akan keberadaan diri mereka, asalnya dari mana, sekarang berada di mana dan nanti akan bagaimana apakah arti pergantian tahun bagi dirinya. Paling-paling berpesta pora, hura-hura sepanjang sdiang dan malam, meniup trompet atau menabur kembang api. Kalau mau direnungi agak dalam, hal seperti ini sebenarnya kosong nilai, tidak ada manfaat yang bisa diambil daripadanya, malah mengundang pemborosan, baik waktu, tenaga maupun biaya. Kalau demikian halnya, bukanlah mustahil kalau pengisian pergantian tahun dengan cara demikian tergolong apa yang disebut tafzier atau mubazir.
Sebagai orang yang beragama tentu kita tidak ingin ini menjadi sia-sia tanpa makna, oleh karena itu sudah seharusnya waktu bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Mari kita menatap tahun 2010 ini dengan penuh harapan, diisi dengan berbagai aktifitas berguna dan bemanfaat. Mungpung usia kita masih tersisa, sebelum ajal datang menjempit.
Sebagai umat beragama (Islam) berprinsif tidak mau melakukan aktifitas yang mengarah kepada hal-hal yang sia-sia dan kosong tanpa arti dan makna, tetapi harus berbuat sesuai yang bisa memberi arti bagi siapa saja dan apa saja dalam kehidupan ini, sebab perbuatan yang sia-sia dan mubazir merupakan perngaruh dari syaitah yang akan merugikan kehidupan kita masa depan.
Bagi orang yang tahu diri, pergantian tahun merupakan moment yang sarat arti bagi perbaikan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia. Ia merasakan umurnya bertanmbah satu tahun lagi, meskipun pada hakikatnya semakin mendekati batas akhir. Iapun mengucap syukur sebagai wujud dan menefestasi terima kasihnya yang mendalam kepada Allah nikmat pergantian tahun dan bertanbahnya unur ini.
Dalam surah Ibrahim ayat 7 Allah berfirman ; ``sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,''.
Ia jadikan moment pergantian tahun sebagai pasca perhitungan, ibarat seorang pedagang ia kalkulasi untung rugi, ia kaji penyebab keuntungan dan penyebab kerugian. Ia lakukan analisa sebagai bahan utama penataan masa depan. Renungkanlah apa yang pernah disinyalir Umar bin Khattab, ``Hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung orang dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang orang lain,''. Dalam kontek ini maka takwa dan muhasabah (koreksi dan introspeksi diri) sangatlah memberi arti bagi penataan masa depan dan hari akhir.
Dalam surah Al Hasyar ayat 18 Allah berfirman :
``Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mempersiapkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,''.
Ayat ini menyerukan agar orang beriman memupuk imannya dengan takwa (amal saleh) karena takwa adalah bukti iman sekaligus ukuran turun naiknnya iman itu. Tuhan sendiri menyatakan ‘berbekalah kamu dan sebaik-baik bekal adalah takwa’. Manusia yang berhasil mencapai derajat takwa dan mampu mempertahankan hingga akhir hayatnya, dipandang sebagai manusia yang sukses ibadahnya, mendatangkan kenikmatan dan kenyamanan baginya dan bagi orang lain, sehingga Rasul mengumpamakan hidupnya orang yang beriman dan bertakwa itu bagai lebah, mesti memberikan yang terbaik bagi orang lain, walaupun ia bertengger di atas sebatang pohon yang lapuk, pohon itu pun tidak akan runtuh karenanya.
Hidupnya bermanfaat bagi orang dan tidak akan merugikan orang lain. Bila akan menguntungkan bagi dirinya dan bagi orang lain, ia tidak ragu melakukannya, dan bila merugikan dirinya dan orang lain ia juga tidak ragu meningglkannya. Karena itu adalah tepat sekali bahwa Allah menempatkan posisi manusia seperti itu sebagai manusia paling mulia di sisi-Nya.
Seruan lain dari ayat itu, mengajak untuk bermuhasabah, melakukan koreksi dan introspeksi diri, menimbang-nimbang antara melaksanakan kewajiban dengan penuntutan hak. Sebab kadang-kadang ada orang yang hanya pandai menuntut hak, sementara kewajiban tidak dilaksanakan, sehingga tidak jarang terjadi ada orang yang dengan tega mempreteli hak orang lain. Islam dengan tegas menyatakan agar umatnya jangan mempereteli hak orang lain, dan melakukan kewajiban lebih diutamakan dari menuntut hak. Kewajiban kepada Allah, kepada semua makhluk malah kewajiban terhadap dirinya sendiri seperti menjaga kefitrahan dan kesucian dirinya.
