• Hari ini : Jumat, 19 Januari 2018

Pasar Terapung Lok Baintan Jadi Warisan Budaya Tak Benda

MENERIMA SERTIFIKAT - Wakil Bupati Saidi Mansyur menerima sertifikat Pasar Terapung  sebagai salah satu wisata nasional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan yang diserahkan Sekdaprov Kalsel HM Arsyadi. (Istimewa)
MENERIMA SERTIFIKAT – Wakil Bupati Saidi Mansyur menerima sertifikat Pasar Terapung sebagai salah satu wisata nasional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan yang diserahkan Sekdaprov Kalsel HM Arsyadi. (Istimewa)

Martapura, KP – Wakil Bupati Saidi Mansyur menerima sertifikat Pasar Terapung  sebagai salah satu wisata nasional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan yang diserahkan Sekdaprov Kalsel HM Arsyadi pada pembukaan Festival Budaya Pasar Terapung di Menara Pandang Jalan Piere Tendean Banjarmasin, pekan kemarin.

Pasar Terapung Lok Baintan merupakan salah satu wisata budaya yang menjadi ikon Kabupaten Banjar. Merupakan sebuah pasar tradisional yang berlokasi di Desa Sungai Pinang Kecamatan Sungai Tabuk.

Pasar Terapung Lok Baintan tidak beda dengan Pasar Terapung di Muara Sungai Kuin atau Sungai Barito. Keduanya sama-sama pasar tradisional di atas jukung yang menjual beragam dagangan seperti hasil produksi pertanian, perkebunan dan berlangsung tidak terlalu lama, paling lama sekitar tiga hingga empat jam.

Pasar Terapung ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Banjar. Obyek wisata ini semakin dikenal, apalagi Pasar Terapung sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Ini menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun internasional.

Penetapan karya budaya daerah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia merupakan konsekuensi dari keikutsertaan Indonesia menandatangani Konvensi Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan bertugas melakukan pencatatan dan penetapan karya budaya daerah menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

“Warisan budaya tak benda ini yang diwariskan dari generasi ke generasi, senantiasa diciptakan kembali oleh berbagai komunitas dan kelompok sebagai tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam serta sejarahnya dan memberi mereka rasa jati diri dan keberlanjutan untuk memajukan penghormatan keanekaragaman budaya dan daya cipta insani,’’ tandas Sekdaprov Kalsel HM Arsyadi. (wan/K-5)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua