• Hari ini : Rabu, 18 Juli 2018

Pembasmian Massal Hama Tikus di Antasan Senor

BERBURU TIKUS - Operasi massal berburu tikus di Antasan Senor Martapura Barat. (Istimewa)
BERBURU TIKUS – Operasi massal berburu tikus di Antasan Senor Martapura Barat. (Istimewa)

Martapura, KP – Guna menekan populasi hama tikus sawah, babinsa, polisi, penyuluh pertanian, petani serta warga desa bersama-sama melakukan pembasmian massal hewan pengerat ini, Rabu (21/12).
Kegiatan ini sebagai wujud kepedulian bersama pada ketahanan pangan di Kabupaten Banjar, khususnya Desa Antasan Senor Kecamatan Martapura Barat.

Kegiatan pembasmian hama tikus ini dilakukan prajurit TNI AD dari Koramil 1006-06/Martapura, anggota Polsek Martapura Barat bersama aparat Desa Antasan Senor, Kecamatan Martapura Barat. Sebelum kegiatan dilaksanakan, petani diberikan sosialisasi bagaimana caranya berburu tikus.

Menurut Pengamat Hama dan Penyakit Kecamatan Martapura Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) Kalsel, Untung Prihadi, kegiatan berburu tikus tersebut guna mengurangi serangan sejumlah hama padi, khususnya tikus.

“Karena serangan tikus hampir setiap musim tanam atau terjadi beberapa hari lagi padi dipanen,’’ jelasnya.

Kegiatan ini, lanjutnya, salah satu dari beragam cara pemberantasan hama di sawah, selain dengan membunuh lewat bahan kimia. Yang jelas cara ini alami serta bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan kegotong-royongan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Bersama Desa Antasan Senor, Zaini menambahkan, perburuan tikus secara massal bertujuan menekan populasi tikus agar pada waktu musim tanam nanti jumlahnya tidak begitu banyak.

“Diharap tindakan ini menunjang program pemerintah agar Kabupaten Banjar bisa swasembada pangan,’’ tandasnya.

Ditambahkannya, kegiatan ini dilakukan satu kali setahun. Namun tahun ini perburuan tikus menemui kesulitan, karena masih tingginya kapasitas air sawah. Berbeda jika musim kemarau, petani lebih maksimal berburu.

Salah seorang petani Ideham mengatakan, dari hasil perburuan hama tikus selama dua jam, tercatat dia paling banyak mengumpulkan tikus sebanyak 27 ekor.

“Rencananya kami diberi upah tangkapan tikus per ekornya Rp500,’’ ujarnya senang.

Dana pembayaran upah hasil tangkapan tikus didapat dari patungan petani itu sendiri. Mereka masing-masing diwajibkan mengumpulkan satu blek hasil panen padi dalam satu tahun. (wan/K-5)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua