• Hari ini : Selasa, 16 Oktober 2018

Pembuatan Sumur Bor ‘Tersendat’

Foto/net : Embung Cegah Karhutbun
Foto/net : Embung Cegah Karhutbun

PALANGKA RAYA, KP – Realisasi pembuatan sumur bor dari berbagai kalangan yang bersedia berpartipasi membangunnya di bebabagi daerah rawan kebakaran, terkesan ”tersendat”. Buktinya baru terealisasi 170 unit dari 400 unit yang ditargetkan. Secara terpisah Asisten II Sekda Kalteng Ir.Syahrin Daulay membenarkan reaisasi sumur bor dimaksud kepada pers di Palangka Raya, Rabu (27/7).

Diakuinnya hingga bulan Juli ini seharusnya capaian target telah mencapai 400 persen, pasalnya sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan, lahan dan kebun, sebab Juli merupakan awal musim kemarau rawan terjadinya karlahutbun.

Ditanya apa saja kendala yang dihadapi para penyumbang proyek keroyokan bersama itu, dikatakan ia tak mengetahui persis, sebab pihaknya bukan pelaksana, tetapi hanya koordinator perencanaan sedangkan pelaksanaan oleh kelembagaan yang ditunjuk, seperti kalangan pengusaha perkebunan, kehutanan, kontraktor, pertambangan, dan perbankan.

Pihaknya berharap para mitra segera merealisasikan apa yang telah ditargetkan, yang belum banyak berperan diantaranya kalangan pengusaha pertambangan, sedangkan pengusaha perkebunan melalui organisasinya GAPSI sudah cukup memadai, demikian pula bidang kehutanan.

Secara terpisah Kepala Badan Lingkungan Hidup Kalteng Ir.Mursyd S mengakui bahaya karlahutbun di Kalteng tak perlu terulang lagi seperti tahun lalu, sebab sangat merugikan baik daerah, bahkan secara nasional, dengan cara menitik beratkan pada pencegahan melalui langkah pembangunan sumur bor dan embung, maupun penabatan kanal di kawasan gambut Kalteng.

Tahun 2015 lalu kawasan yang terparah penyumbang kebakaran hutan, lahan dan perkebunan di daerah Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, Kotim, Palangka Raya dan daerah lainnya dengan luasan seluruhnya mencapai 17.800 ha, terparah dalam lima (5) tahun terakhir.

Terkait ancaman karlahutbun tahun ini telah bermunculan beberapa titik api pada awal Juli 2016 lalu, namun padam pasca terjadinya hujan lagi selama lebih dari dua minggu terakhir, diharapkan hujan masih terjadi hingga bulanh Agustus, sehingga masa kemarau tidak terlampau lama seperti tahun lalu, imbuh Mursyd. (drt/K-8)

Tag:
loading...
error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua