• Hari ini : Sabtu, 21 Juli 2018

Pemerkosa dan Pembunuh Anak Diperjara Sampai Mati

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Hulu Sungai Selatan (HSS), Kandangan, memvonis terdakwa Marzuki (27) penjara seumur hidup, Kamis (24/11).
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Hulu Sungai Selatan (HSS), Kandangan, memvonis terdakwa Marzuki (27) penjara seumur hidup, Kamis (24/11).

KANDANGAN, KP – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Hulu Sungai Selatan (HSS), Kandangan, memvonis terdakwa Marzuki (27) penjara sampai mati (seumur hidup).

Ketua Majelis Hakim, Syamsuni dalam putusannya menyatakan, terdakwa secara sah dan meyakinkan telah membunuh sekaligus memperkosa anak berinisial SA, yang masih berumur 7 tahun dan saat itu masih duduk di bangku Kelas 1 SD pada bulan April 2016.

Putusan Majelis hakim ini lebih berat dari tuntuan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya menuntut dengan ancaman pidana 20 tahun dan denda Rp3 Miliar dan subsider 6 bulan penjara.

Menurut Hakim Ketua Syamsuni ada beberapa hal yang memberatkan terdakwa antara lain mengakibatkan trauma yang mendalam bagi orang tua korban utamanya ibu korban, tidak ada perdamaian antara keluarga korban dengan terdakwa atau keluarga terdakwa.

“Bahwa setelah melakukan perbuatannya, terdakwa mabuk-mabukan dengan miras oplosan dengan menggunakan hasil dari penjualan anting-anting korban serta selama menjalani persidangan berlangsung, terdakwa tidak nampak sedikitpun penyesalan atas perbuatan yang dilakukan,’’ ujarnya.

Penetapan vonis tersangka berdasarkan pasal 80 ayat (3), pasal 81 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak, Perpu Nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak.

Disidang putusan berlangsung kurang lebih satu jam dan terdakwa didampingi kuasa hukumnya Mus Nuran Rasyidi menyatakan masih pikir-pikir atas vonis seumur hidup.

Sementara itu, ayah korban M Hasby (55) mengaku, puas dan lega dengan keputusan vonis yang ditetapkan majelis hakim karena sudah sesuai dengan harapan keluarganya.

Agar terdakwa yang telah melakukan kejahatan yang mengakibatkanya putri bungsunya meninggal dunia dapat dihukum seberat-beratnya.

“Alhamdulillah putusannya sesuai dengan harapan keluarga. Kalau tidak seumur hidup pasti istri saya sangat terpukul mengetahuinya, apalagi istri saya pernah dirawat dirumah sakit akibat kejadian yang menimpa anak bungsu ini,’’ ujarnya.

Sekadar diketahui, peristiwa yang dialami korban SA terjadi pada Senin 25 April 2016.

Akibat kejadian tersebut korban mengalami luka dibagian kepala, muka dan leher, serta dibagian kemaluan.(noi/K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua