• Hari ini : Minggu, 21 Januari 2018

Pengembang Mengeluh Penjualan Rumah Premium Melambat

RUMAH PREMIUM LESU - Sejumlah konsumen banua mulai melakukan menahan diri melakukan transaksi pembelian rumah menengah karena kondisi perekonomian banua saat ini, lesunya penjualan rumah komersial dikeluhkan sejumlah pengembang banua.  (KP/Hifni)
RUMAH PREMIUM LESU – Sejumlah konsumen banua mulai melakukan menahan diri melakukan transaksi pembelian rumah menengah karena kondisi perekonomian banua saat ini, lesunya penjualan rumah komersial dikeluhkan sejumlah pengembang banua. (KP/Hifni)

BANJARMASIN, KP – Pengembang rumah menengah keatas atau jenis premium mulai mengeluhkan penjualan rumah yang cenderung sepi pembeli atau melambat karena kondisi perekonomian banua yang belum membaik.

Owners PT Awang Permai H Anwar Hadimi kepada wartawan menjelaskan, saat ini penjualan rumah premium sepi pembeli daya beli sudah sangat melemah terjual 2 sampai 3 unit saja sangat berat setiap bulannya sebelumnya 10 unit sangat mudah terjual.

“Ada sekitar 70 persen turunnya penjualan rumah premium dan ini tidak saya saja yang mengalaminya namun hampir semua pengembang mengeluhkan terus melemahnya daya beli rumah saat ini karena perekonomian yang belum stabil,’’kata Hadimi.

Untuk menyikapi kondisi ini pengembang harus pandai-pandai melakukan terobosan agar perusahaan tetap bisa bertahan karyawan dan pekerja lapangan tidak terkena PHK.
“ Kami berharap dengan semakin banyaknya regulasi dan kebijakan baru dari pemerintah tahun depan geliat daya beli kembali bisa naik sehingga akan banyak lagi unit yang terjual,” jelas mantan Ketua REI Kalsel ini.

Ditambahkan, Owners PT Citra Graha A Yani Km 17 H Noorhin kepada wartawan menjelaskan, penjualan rumah premium atau menengah mengalami penurunan dari harga Rp300 jutaan hingga Rp400 jutaan.

“Lesunya penjualan rumah menengah ini difrediksi karena ini bertepatan dengan lesunya harga hasil tambang dan hasil karet serta kelapa sawit dipasar dunia,  apalagi pembeli rumah menengah keatas ini kebanyakan mereka untuk investasi jangka panjang saja karena sebelumnya mereka sudah memiliki hunian pribadi,” lanjut Owners Q Mall Banjarbaru ini.

Agar pengembang terus bisa bertahan dengan kondisi lesunya penjualan rumah menengah saat ini, Kota Citra Graha mulai membangun rumah menengah kebawah dengan harga jual dikisaran Rp199 jutaan dengan type 40 cluster Lotus.
“ Pihaknya optimis rumah menengah kebawah type Lotus ini akan banyak peminatnya karena rumah yang dibangun ini berada kawasan Kota Citra Graha Km 17 dan harga yang ditawarkan masih sangat terjangkau dengan rencana pembangunan pertama sebanyak 100 unit,” lanjutnya.

“Penurunan penjualan rumah menengah yang sama terjadi pada pengembang Citra Mitra City dikawasan Banjarbaru yang banyak membangun rumah menengah dengan konsef kota mandiri,” jelas Pilot Project Citra Mitra City, Fahmi Idris.

Ada penurunan penjualan rumah menengah dalam beberapa bulan ini, penjualan benar-benar lesu namun pihaknya optimis dengan kembali adanya kebijakan dari pemerintah terkait perbaikkan ekonomi, manajemn Mitra City optimis akhir 2016 nanti penjualan akan kembali membaik.

“ Kami menargetkan sekitar 200 unit rumah untuk tahun ini dengan terget transaksi sebesar Rp100 miliar bisa terlampaui,” jelasnya.
Unit rumah yang paling disukai orang banua dikota mandiri Mitra City ini dengan harga Rp500 juta sampai Rp800 jutaan pihaknya masih optismis karena pencapaian sudah mencapai 50 persen lebih.  (hif/K-7)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua