• Hari ini : Rabu, 24 Januari 2018

Pesantren Layak Diperhitungkan

DEFILE KONTINGEN – Kontingen MKQ ke-VI dari Kabupaten Kotabaru, mengenakan seragam pakaian gamis saat berdefile di hadapan tamu undangan pada pembukaan di Asrama Haji Banjarmasin di Banjarbaru, Minggu (27/8). (KP/Lili)

Banjarmasin, KP – Musabaqah Qira’atil Kutub (MKQ) diharapkan akan menebarkan pesona di kalangan luas dan pesantren layak diperhitungkan sebagai institusi keilmuan yang terhormat.

Kepala Kantor Wilayah (KaKanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), H Noor Fahmi mengatakan hal itu pada pembukaan MKQ ke-VI Tingkat Provinsi Kalsel, di Asrama Haji, Banjarbaru, Minggu (26/8).

“Mari kita jadikan momentum MKQ VI, tingkat Provinsi Kalsel ini untuk introspeksi, membenahi kekuarangan-kekurangan kita, sembari mengukuhkan tradisi keilmuan yang kita miliki dengan tetap menerima ide baru yang konstrukstif dan produktif untuk perluasan keilmuan pesantren,’’ ajaknya.

Menurut dia, kemampuan para santri menguasai kitab kuning yang meliputi berbagai cabang ilmu pengetahuan telah memperluas wawasan keagamaan maupun wawasan kemasyarakatan, bahkan juga wawasan politik.

Meskipun pada waktu itu buku-buku referensi ilmiah belum banyak dan belum ada yang masuk pesantren, namun kitab-kitab klasik yang ada di pesantren cukup banyak dan mampu mempengaruhi sikap, cara pandang dan perilaku santri dalam menghadapi problem kemasyarakatan dan kebangsaan.

“Karenanya, tidak aneh bila ada seorang peneliti berkesimpulan bahwa meskipun pesantren dan santri ada di pedesaan, namun pola pikir dan sikapnya sesungguhnya adalah urban (kota) dan kosmopolit,’ ujarnya.

“Disinilah letak penting kitab kuning bagi pesantren sebagai institusi keilmuan.

Meskipun tidak mengalami perkembangan pesat, dinamika keilmuan pesantren tetap terjaga lestari hingga hari ini.

Kontinuitas itu dapat dipeilihara karena sikap konsistensi (istiqomah) pesantren pada referensi keilmuan yang berbasis kitab kuning,’ jelasnya lagi.

MKQ ke-VI tingkat Provinsi Kalsel tahun 2017 ini, berlangsung 26 – 30 Agustus, diikuti 619 santri yang telah lolos mengikuti seleksi di tingkat kabupaten/kota se Kalsel.

Sedangkan cabang yang dilombakan adalah membaca kitab kuning yang meliputi 11 cabang serta dua bidang debat yaitu debat bahasa Inggris dan debat bahasa Arab. (lia/K-4)

 

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua