• Hari ini : Kamis, 24 Mei 2018
  • 28 C

Polres HST Amankan Pembuat Tuak

Barabai, KP – Jajaran polres Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) kembali mengamankan sebanyak 135 liter minuman keras (Miras) oplosan jenis tuak di Desa Labung Anak Kecamatan Batang Alai Utara (Batara).

Tidak hanya mengamankan ratusan liter Miras itu, anggota juga mengamankan pembuat tuak tersebut, bernama Haris Fadillah (43) yang beralamat di Desa Labung Anak RT 03 RW 01, HST.

Kapolres HST AKBP Sabana Atmojo, Selasa (15/5) di Polres menerangkan, kalau pelaku dibekuk bersama barang bukti pada Senin (14/5) sekitar pukul 16.30 WITA.

Kasus minuman tuak ini dibekuk tim gabungan dari Kasat Sabhara Iptu Anton Silalahi, Kapolsek Batara Iptu Antoni Silalahi, KBO Sat Sabhara Ipda Ajidanor, Kasi Propam Ipda Rahmad  Hidayat Noor, serta anggota gabungan Piket Fungsi dan Anggota Polsek Barata.

Saat ditangkap, barang bukti ditemukan petugas di tempat penyimpanan atau gudang pembibitan yang berlokasi kurang lebih 500 meter dari rumah milik pelaku.

Petugas berhasil mengamankan satu buah tong berisi 70 liter, satu buah bak segi empat isi 35 liter, satu buah bak isi 10 liter, satu buah bak isi 20 liter dan empat jerigen kosong.

Jika ditotal Jumlah miras oplosan yang disita adalah kurang lebih 135 liter.

“Kemudian tersangka beserta barang bukti di amankan di Mapolres HST untuk diminta keterangan lebih lanjut,” ucap AKBP Sabana Atmojo.

Kapolres mengungkapkan giat operasi itu dilakukan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban dalam rangka menyambut bulan Suci Ramadhan 1439 H dengan sasaran yaitu Miras, premanisme dan penyakit masyarakat lainnya.

Sekedar diketahui, pelaku Haris Fadillah ini beberapa waktu yang lalu juga sudah pernah diamankan dengan kasus Tipiring yang sama. Kala itu ia hanya dikenakan sanksi denda sebesar Rp5 juta.

“Mungkin karena merasa ringan dan tidak menimbulkan efek jera, pelaku kembali mengulangi perbuatannya,” timpalnya.

Oleh karena itu, ia berharap, ada regulasi dengan sanksi berat, sehingga pelaku penjual Miras ilegal jera dan tidak mengulangi perbuatannya.

Ia juga menghimbau, masyarakat turut terlibat dalam memberantas peredaran Miras. “Kepada warga yang mengetahui ada peredaran miras agar segera melaporkan ke Polres HST atau Polsek terdekat,” kata Sabana.

Kepada wartawan, Haris Fadillah mengakui sudah sejak lama menjual Tuak, sebab minuman tersebut masuk minuman tradisional dan mengkonsumsinya sudah menjadi tradisi dari dulu.

Menurutnya, pelanggannya adalah generasi muda yang biasanya mengisap lem yang sekarang pindah ke mengkonsumsi tuak. “Kalau mereka tidak punya uang tetap dikasih, begitu juga dengan masyarakat yang sakit kaki atau ada penyakit tetap dikasih gratis kalau tidak punya uang,” ungkapnya.

Alasannya menjual tuak, karena lebih menguntungkan dibandingkan dijadikan gula merah.

“Dari penyadap laang atau air aren saya membeli Rp35 ribu per 10 liter, kalau dibikin gula merah per 10 liter hanya dapat 1 Kg dengan harga Rp15 ribu,” ungkapnya.(ary/K-4)

error: Kalimantan Post - Asli Koran Banua